Pages

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2011

Asfiksia Neonaturum

Asfiksia Neonaturum
Asfiksia
Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan mungkin meningkatkan C02 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut.

Atas dasar pengalaman klinis, Asfikia Neonaiorum dapat dibagi dalam :
  1. "Vigorous baby'' skor apgar 7-10, dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerkikan istimewa.
  2. "Mild-moderate asphyxia" (asfiksia sedang) skor apgar 4-6 pada pemeriksaan fisis akan terlihat frekuensi jantung lebih dari lOOx/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refick iritabilitas tidak ada
  3. Asfiksia berat: skor apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisis ditemukan' frekuensi jantung kurang dari l00x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada 

Asfiksia berat dengan henti jantung yaitu keadaan :
  1. Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelu lahir lengkap.
  2. Bunyi jantung bayi menghilang post partum.

II. ETIOLOGI
Asfiksia janin atau neonatus akan terjadi jika terdapat gangguan perlukaran gas atau pengangkutang O2 dari ibu kejanin. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. Hampir sehagian hes;ir asfiksia bayi baru lahir meriip;ik;in kcltiniutan asfiksia janin, karena itu penilaian janin selama kehamilan dan persalinan. memegang peran penting untuk keselamatan bayi atau kelangsungan hidup yang sempurna tanpa gejala sisa.




Pengolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari:
1. Faktor Ibu
a. Hipoksia ibu
Terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anestesia dalam. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin.
b. Gangguan aliran darah uterus
Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada :
-Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat.
- Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
- Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
2. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta.
Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta dan lain-lain.
3. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
4. Faktor Neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena :
1. Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.
2. Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah intrakranial.
Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.

III. PATOFISIOLOGI
Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar lerjadi "Primarg gasping" yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan.

Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian.

Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (Secondary apnea).

Pada tingkat ini ditemukan bradikardi dan penurunan tekanan darah. Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan pemeriksaan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3 berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen tubuh , sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkuang.asam organik terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan
tumbuhnya asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan sel otak yang terjadi menimbuikan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.

IV. MAN1FESTASI KLINIS
Asfiksia biasanya merupakan akibat dari hipoksi janin yang menimbulkan tanda:
  • DJJ lebih dari 1OOx/mnt/kurang dari lOOx/menit tidak teratur
  • Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala
  • Apnea
  • Pucat '
  • sianosis
  • penurunan terhadap stimulus.

V. PENATALAKSANAAN KLINIS
a. Tindakan Umum
- Bersihkan jalan nafas : kepala bayi dileakkan lebih rendah agar lendir mudah mengalir, bila perlu digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lendir dari saluran nafas ayang lebih dalam.
- Rangsang reflek pernafasan : dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles.
- Mempertahankan suhu tubuh.
b. Tindakan khusus
- Asfiksia berat
Berikan O2 dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal dapat dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya dengan O2. Tekanan O2 yang diberikan tidak 30 cm H 20. Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan message jantung dengan ibu jari yang menekan pertengahan sternum 80 -100
x/menit.
- Asfiksia sedang/ringan
Pasang relkiek pernafasan (hisap lendir, rangsang nyeri) selama 30-60 detik. Bila gagal lakukan pernafasan kodok (Frog breathing) 1-2 menit yaitu : kepala bayi ektensi maksimal beri Oz 1-2 1/mnt melalui kateter dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakkan dagu ke atas-bawah secara teratur 20x/menit
- Penghisapan cairan lambung untuk mencegah regurgitasi

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
- Pemeriksaan darah Kadar As. Laktat. kadar bilirubin, kadar PaO2, PH
- Pemeriksaan fungsi paru
- Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler
- Gambaran patologi

READ MORE - Asfiksia Neonaturum

Selasa, 22 Maret 2011

Kesehatan Bayi Saat Lahir Tentukan Risiko ADHD



Kesehatan Bayi Saat Lahir Tentukan Risiko ADHD
Kesehatan bayi pada menit-menit pertama setelah lahir ke dunia dapat dikaitkan dengan risiko mengembangkan gangguan konsentrasi dan hiperaktif (ADHD) di kemudian hari.

Sebuah studi terbaru yang dilaporkan dalam Journal of Pediatrics, menunjukkan bahwa skor Apgar yang mencatat kondisi kesehatan bayi yang baru lahir dalam lima menit pertama dapat memberikan beberapa petunjuk mengenai risiko ADHD di masa mendatang.

Skor Apgar pada bayi yang baru lahir didasarkan pada tanda-tanda fisik, termasuk tingkat pernapasan, jantung dan otot. Bila mencatat nilai 7 atau lebih dianggap normal, sementara nilai 9 atau 10 menunjukkan bahwa bayi dalam "kondisi terbaik."

Dalam studi terbaru ini, para peneliti menemukan bahwa di antara lebih dari 980.000 bayi di Denmark, risiko mengembangkan ADHD meningkat setelah skor Apgar tercatat rendah.

Dibandingkan dengan bayi yang mencatat skor Apgar 9 atau 10, mereka yang memiliki nilai 5 atau 6 memiliki risiko 63 persen lebih tinggi terhadap ADHD. Sedangkan mereka yang mencatat nilai Apgar dari 1 sampai 4 memiliki risiko ADHD 75 persen lebih besar.

Namun, apa sebenarnya arti dari temuan terbaru ini masih belum jelas. Skor Apgar yang abnormal dapat mencerminkan kondisi semacam stres selama kehamilan atau kelahiran - seperti pasokan oksigen menurun - yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan ADHD di kemudian hari, para peneliti berspekulasi.

"Mungkin ada beberapa penyebab skor Apgar rendah dan ADHD yang saling terkait, tapi analisis kami tidak menunjuk (pada) faktor-faktor tertentu di sini," kata Dr. Carsten Obel, yang juga salah seorang peneliti dalam studi ini.

Sejumlah penelitian telah menghubungkan lahir prematur dengan peningkatan risiko ADHD, meskipun alasan ini belum jelas, catat Obel, peneliti dari University of Aarhus di Denmark.

Baik lahir prematur dan skor Apgar yang rendah dapat menjadi penanda perkembangan janin yang kurang optimal, jelasnya.

Temuan ini didasarkan pada data pencatatan nasional Denmark terhadap 980.902 anak yang lahir antara 1988 dan 2001. Dari anak-anak itu, 8.234 didiagnosis ADHD - yang sebagian besar anak laki-laki.

Bahkan setelah peneliti mempertimbangkan faktor-faktor seperti kelahiran prematur, pendapatan keluarga dan ibu merokok serta tingkat pendidikan ibu, risiko ADHD lebih tinggi di antara anak-anak dengan skor Apgar di bawah 7.

Namun, sebagian besar anak-anak dalam penelitian itu tidak didiagnosis dengan ADHD, terlepas dari skor Apgar yang tercatat. Dan belum jelas apakah hubungan Apgar-ADHD ini akhirnya dapat berimplikasi praktis.

Dalam kelompok studi ini, Obel mengatakan, skor kemampuan seorang anak untuk memrediksi ADHD tidak terlalu kuat.


www.smasim_09webs.com
READ MORE - Kesehatan Bayi Saat Lahir Tentukan Risiko ADHD

Sabtu, 19 Maret 2011

ASFIKSIA

ASFIKSIA
A. Definisi Asfiksia
1.      Pengertian
a.  Asfiksia neonatorum adalah di mana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir keadaan tersebut dapat disertai dengan adanya hipoksia, hiperkapnea dan sampai ke asidosis   (Hidayat, 2005).
b.  Asfiksia neonatorum adalah  kegagalan bernafas secara spontan  dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan  PaO2 di dalam darah (hipoksemia), hiperkabia (PaCO2) meningkat dan asidosis (Utomo, 2006).
c.  Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang mengalami kegagalan bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir (Kamarrullah, 2005).
d.  Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2­ (oksigen) dan mungkin meningkatkan CO2 (karbondioksida) yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Purwadianto, 2000).
e. Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur (Waspodo dkk (ed), 2007).
2.      Klasifikasi Asfiksia Neonatus dapat dibagi dalam :
Menurut Kamarullah (2005) klasifikasi asfiksia dibagi menjadi :
a.  Asfiksia Ringan
Skor APGAR 7-10. Bayi dianggap sehat, dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
b.  Asfiksia Sedang
Skor APGAR 4-6. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi tentang lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
c.  Asfiksia Berat
Skor APGAR 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada, pada asfiksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung  fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang post partum  pemeriksaan fisik sama asfiksia berat (Kamarullah,2005).
3.      Cara menilai tingkatan apgar score
Cara menilai tingkatan apgar score menurut Utomo (2006) adalah dengan :
a.  Menghitung frekuensi jantung
b.  Melihat usaha bernafas
c.   Menilai tonus otot
d.   Menilai reflek rangsangan
e.   Memperlihatkan warna kulit

Di bawah ini adalah tabel untuk menentukan tingkat derajat asfiksia yang dialami bayi:
Tabel 2 .1  Nilai APGAR.
Tanda
0
1
2
Detak jantung Pernafasan
Tonus otot
Reflek saat jalan nafas  dibersihkan
Warna
Tak ada Tidak ada
Lunglai
Tidak ada

Biru/pucat
<100 x/mnt Tidak teratur
Ekstremitas lemah
Menyeringai
Tubuh kemerahan
Ekstremitas  Biru
>100 x/mnt Menangis kuat
Gerakan aktif
Batuk/bersin

Merah seluruh tubuh
Sumber : Utomo, (2006).

Menurut Mochtar (1998) asfiksia dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a.     Asfiksia livida (biru)
b.     Asfiksia Pallida (putih)
Tabel 2.2 Perbedaan  antara asfiksia  livida dan asfiksia pallida
Perbedaan Asfiksia livida Asfiksia Pallida
Warna kulit Tonus otot
Reaksi rangsangan
Bunyi jantung
Prognosis
Kebiru-biruan Masih baik
Positif
Masih teratur
Lebih baik
Pucat Sudah kurang
Negatif
Tidak teratur
jelek

Asfiksia livida lebih baik dari pada asfiksia pallida, prognosis tergantung pada kekurangan O2 dan luasnya perdarahan dalam otak. Bayi yang dalam keadaan asfiksia dan pulih kembali harus di pikirkan kemungkinannya  menderita cacat mental seperti epilepsi dan bodoh pada masa mendatang.

4.    Diagnosis asfiksia
Menurut Wiknjosastro (2005) diagnosis asfiksia adalah sebagai berikut :
a.  DJJ
Keadaan di mana denyut jantung  janin frekuensi turun sampai di bawah 100/menit di luar his, atau denyut jantung tidak teratur elektro kardiogram janin digunakan untuk terus menerus  mengawasi jantung janin.
b.  Mekonium dalam air ketuban
Terdapatnya mekonium pada presentasi kepala, menunjukkan gangguan oksigenasi, dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan.
c. Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop diambil contoh darah janin, adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Bila pH turun sampai di bawah 7,2 merupakan tanda bahaya bagi janin.


B. Etiologi
Menurut Kamarullah (2005) penyebab asfiksia adalah Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena gangguan pertukaran gas transport O2 dari ibu ke janin sehungga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2.gangguan ini dapat berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan, atau secara mendadak karena hal-hal yang diderita ibu dalam persalinan.

Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi yang buruk, penyakit menahun seperti anemia, hipertensi, jantung dan lain-lain. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan yang besifat mendadak yaitu faktor janin berupa gangguan aliran darah dalam tali pusat, depresi pernapasan karena obat-obatan anestesi/analgetika yang diberikan ke ibu, perdarahan intrakranial, kelainan bawaan seperti hernia diafragmatika, atresia saluran pernapasan, hipoplasia paru-paru dan lain-lain. Sedangkan faktor dari ibu adalah gangguan his misalnya hipertonia dan tetani, hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi, dan eklamsia, gangguan mendadak pada plasenta seperti solusio plasenta.

Menurut Oxorn (2003), penyebab asfiksia adalah sebagai berikut :
a.  Pada saat kehamilan
1.  Sebab-sebab maternal
a)   Anemia
b)   Perdarahan dan syok
c)    Penyakit kardiorespiratorik
d)    Toxemia gravidarum
e)    Umur ibu lebih dari 40 tahun
f)     Grandemultipara

2.   Sebab-sebab pada placenta
a)   Penyakit pada placenta
b)   Perdarahan (placenta previa)
3.    Sebab-sebab pada funiculus umbilicalis
a)   Prolapsus
b)   Membelit dan simpul
c)    Kompresi
4.    Sebab-sebab fetal
a)   Anomali kongenital
b)   Prematuritas
c)   Ketuban pecah dini yang membawa infeksi
d)   Kehamilan lama
b.  Persalinan dan kehamilan
1)   Anoreksia akibat kontraksi uterus yang terlampau kuat dan berlangsung terlampau lama.
2)  Narkosis akibat pemberian analgesik dan anestesi yang berlebihan.
3)   Hipotensi maternal akibat anastesi spinal.
4)   Obstruksi saluran nafas akibat aspirasi darah, lendir.
5)   Partus lama
6)   Kelahiran yang sukar (dengan atau tanpa forcep) sehingga menyebabkan perdarahan cerebral atau kerusakan pada sistem saraf pusat.
Menurut Waspodo dkk (ed) (2007), faktor-faktor penyebab timbulnya asfiksia (gawat janin) adalah :
a.  Faktor ibu
1)   Pre eklampsia dan eklampsia
2)   Perdarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
3)   Partus lama atau partus macet
4)   Demam selama persalinan
5)  Infeksi berat seperti malaria, sifilis, TBC (Tuberculosis), HIV (Human Immunology Virus)
6)  Kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
b.  Faktor tali pusat
1)   Lilitan tali pusat
2)   Tali pusat pendek
3)   Simpul tali pusat
4)    Prolapsus tali pusat
c.   Faktor bayi
1)   Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
2)   Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
3)  Kelainan bawaan (konginetal)
4)   Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
Menurut Towel (1996), Penggolongan Penyebab Kegagalan Pernapasan Pada bayi yang terdiri dari :
a.   Faktor Ibu
1.    Hipoksia Ibu, hal ini akan menimbulkan hipoksia janin, hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anastesi dalam
2.    Gangguan aliran darah uterus
3.    Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya penga,liran O2 ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada kasus-kasus.
a)    Gangguan kontrasi uterus, misalnya : Hipertensi, Hipotoni / uterus akibat penyakit atau obat
b)    Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan
c)    Hipertensi pada penyakit eklamsia.
b.    Faktor Plasenta
Solusi plasenta. Perdarahan plasenta, dan lain-lain
c.   Fator Fetus
Tali pusat menumbung lilitan tali pusat, kompresi tali pusat antara   janin dan jalan lahir
d.   Faktor Neonatus
1.    Pemakaian obat anastesi / analgetika yang berlebihan pada itu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernapasan janin.
2.   Trauma yang terjadi pada persalinan. Misalnya : Perdarahan Intra Cranial
3.   Kelainan Kongenital. Misalnya : Hernia diafragmatika atresia saluran pernapasan hipoplasia paru dan lain-lain. (Wiknjosastro, 1999).

C. Tanda dan Gejala
Menurut Winkjosastro (1999), tanda dan gejala asfiksia yaitu:
1.    Hipoksia
2.    Respirasi > 60 x/mnt atau < 30 x/mnt
3.    Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas
4.    Bradikardia
5.   Tonus otot berkurang
6.  Warna kulit sianotik/pucat
Menurut Waspodo,dkk (2007), tanda dan gejala asfiksia adalah:
1.  Tidak bernapas atau napas megap-megap atau pernapasan lambat (kurang dari 30 kali per menit)
2.   Pernapasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (pelekukan dada)
3.   Tangisan lemah atau merintih
4.    Warna kulit pucat atau biru
5.   Tonus otot lemas atau ekstremitas lemah
6.   Denyut jantung tidak ada atau lambat (bradikardi) (kurang dari 100 kali per menit).

D. Patofisiologi
Pernapasan Spontan BBL tergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Bila terdapat gangguan Pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan / persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode opnu (Primary Apnoe) disertai dengan penurunan frekuensi diikuti oleh pernapasan teratur. Pada penerita asfiksia berat. Usaha bernafas tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnue kedua. Pada tingkat ini terjadi bradikardi dan penurunan tensi darah.
Pada asfiksia terjadi pula gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-asam pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama hanya menimbulkan asidosis respiraktonik. Bila gangguan berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an aerobic yang berupa glikolisis gukogen tubuh. Sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardio vaskuler yang disebabakan oleh beberapa keadaan diantarannya :
a.   Hilangnya Sumber Glukogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung
b.   Terjadi asidosis metabolis akan menimbulkan kelemahan otot jantung
c.    Pengisian udara alucolus yang kurang adekuat akan mengakibatkan tetap tingginya Resistensi Pembuluh darah Paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan demikian pula kesistem sirkulasi tubuh lain akan mengalami gangguan. (Rustam, 1998)
Pada keadaan asfiksia yang perlu mendapat perhatian sebaiknya :
a.    Menurunnya tekanan O2 darah (Pa O2)
b.    Meningginya tekanan O2 darah (Pa O2)
c.     Menurunya PH (akibat osidosis respirantorik dan metabolik)
d.    Dipakainya sumber glukogen tubuh untuk metabolisme an-aerobic
e.     Terjadinya perubahan sistem kardiovaskuler
Dalam menentukan tingkat asfiksia neonatorum digunakan kriteria penilaian yaitu yang disebut dengan skor APGAR. Skor APGAR biasanya dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap pada skor APGAR menit 1 ini menunjukan beratnya ASFIKSIA yang diderita dan untuk menentukan pedoman resusitasi dan perlu juga dinilai setelah 5 menit bayi lahir karena hal ini mempunyai koralasi yang erat dengan morbiditas dan mertilitas neonatal.
Menurut Kamarullah (2005), patofisiologi asfiksia adalah Pernapasan spontan bayi baru lahir tergantung pada keadaan janin pada masa hamil dan persalinan. Proses kelahiran sendiri akan menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara. Proses ini sangat perlu untuk merangsang hemoreseptor pusat pernapasan untuk terjadinya usaha pernafasan yang pertama yang kemudian akan berlanjut menjadi pernapasan yang teratur. Pada penderita asfiksia berat usaha napas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya dalam periode apnue. Pada tingkat ini disamping penurunan frekuensi denyut jantung (bradikardi) ditemukan pula penurunan tekanan darah dan bayi nampak lemas (flasid). Pada asfiksia berat bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukkan upaya bernapas secara spontan. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas atau transport O2 (menururunnya tekanan O2 darah) mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik, tetapi bila gangguan berlanjut maka akan terjadi perubahan kardiovaskuler. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel-sel otak, kerusakan sel-sel otak ini dapat menimbulkan kematian atau gejala (squele).

E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan asfiksia sedang menurut Wiknjosastro (2005) adalah sebagai berikut :
a.   Tindakan umum
1)    Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel jaringan sehingga kebutuhan oksigen meningkat, perlu diperhatikan untuk menjaga kehangatan suhu BBL dengan :
a)    Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.
b)    Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar.
c)    Bungkus bayi dengan kain kering.
2)   Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan amnion, kepala bayi harus posisi lebih rendah sehingga memudahkan keluarnya lendir.
3)   Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan
Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua telapak kaki bayi, menekan tendon achilles atau memberikan suntikan vitamin K. Hal ini berfungsi memperbaiki ventilasi.
b.   Tindakan khusus
1)   Asfiksia berat (nilai apgar 0-3)
Resusitasi aktif dalam hal ini harus segera dilakukan yaitu dengan :
a)    Memperbaiki ventilasi paru-paru dengan memberikan O2 secara langsung dan berulang atau dengan melakukan intubasi endotracheal dan O2 dimasukkan dengan tekanan tidak lebih dari 30 ml. Hal ini mencegah terjadinya iritasi paru berlebihan sehingga dapat terjadi ruptur aveoli. Tekanan positif ini dilakukan dengan meniupkan udara ke dalam kateter dari mulut ke pipa atau ventilasi kantong ke pipa.
b)   Memberikan natrikus bikarbonat dengan dosis 2-4 mEQ/kg BB
c)    Masase jantung dikerjakan dengan melakukan penekanan diatas tulang dada secara teratur 80-100 x/mnt. Tindakan ini berselingan dengan nafas buatan, yaitu setiap 5 x masase diikuti 1x pemberian nafas. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya komplikasi pneumotoracks jika  tindakan ini dilakukan bersamaan.
d)    Memberikan obat-obatan 1/10.000 andrelin dengan dosis 0,5-   1 cc secara intravena (sebegai obat inotropik) dan kalsium glukonat 50-100 mm/kg BB secara intravena, untuk meningkatkan frekuensi jantung.
2)   Asfiksia sedang (Nilai Apgar 4-6)
Dilakukan rangsangan untuk menimbulkan reflek pernafasan dengan :
a)    Melakukan rangsangan 30-60 detik setelah penilaian APGAR   1 menit.
b)   Melakukan nafas buatan dengan memasukkan pipa ke dalam hidung, O2 dialirkan dengan kecepatan 1-2 liter/menit. Bayi diletakkan dengan kepala dalam dorsofleksi, dilakukan dengan membuka dan menutup lubang hidung dan mulut disertai dengan menggerakkan dagu ke atas dan kebawah dalam frekuensi 20 x/ menit.
c)    Melakukan pernafasan mulut ke mulut yag seharusnya dalam mulut bayi dimasukkan pharingeal airway yang berfungsi mendorong pangkal lidah ke depan, sebelum mulut penolong diisi O2 sebelum peniupan, peniupan dilakukan secara teratur dengan frekuensi 20-30 x/menit.
c.   Tindakan lain dalam resusitasi
1)      Pengisapan cairan lambung dilakukan pada bayi-bayi tertentu yaitu pada bayi prematur, sebelumnya bayi mengalami gawat janin, pada ibu yang mendapatkan anastesia dalam persalinan.
2)      Penggunaan obat Nalorphin diberikan pada bayi yang disebabkan oleh penekanan pernafasan akibat morfin atau petidin yang diberikan selama proses persalinan
Menurut Hidayat (2005), Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan asfiksia, antara lain
a.  Asfiksi Ringan (Apgar score 7-10)
Caranya:
1.      Bayi dibungkus dengan kain hangat
2.      Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung kemudian mulut
3.      Bersihkan badan dan tali pusat.
4.      Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke dalam inkubator.
b.      Asfiksia sedang (Apgar score 4-6)
Caranya :
1.      Bersihkan jalan napas.
2.      Berikan oksigen 2 liter per menit.
3.      Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada reaksi,bantu pernapasan dengan melalui masker (ambubag).
4.      Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5%sebanyak 6cc.Dextrosa 40% sebanyak 4cc disuntikan melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan, untuk mencegah tekanan intra kranial meningkat.
c.       Asfiksia berat (Apgar skor 0-3)
1.      Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.
2.      Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
3.      Bila tidak berhasil lakukan ETT.
4.      Bersihkan jalan napas melalui ETT.
5.      Apabila bayi sudah mulai benapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc.

DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, P. 2002. Praktisi Pelayanan Kesehatan Material dan Neonatal Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono, P. 1992. Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Mochtar, R. 1998. Sinopsis obstetric. Jakarta : EGC
Mochtar, R. 1998. Obstetric Fisiologis. Jakarta : EGC
Mochtar, R. 1998. Obstetric Patologi. Jakarta : EGC
Dep. Kes. RI. 2005.  Asuhan Persalinan Normal. Jakarta
Dep. Kes. RI. 2007. Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
FKUI. 2005. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Infomedika
Hidayat, A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika.
Ladewig, P. 2006. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir. Jakarta: EGC.
Meadow, R. dan Newell, S. 2005. Lectrure Notes Pediatrika. Jakarta: Erlangga.
Nelson, J. 1994. Ilmu  Kesehatan  Anak, Jilid I. ECG. Jakarta.
Saifuddin, A. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Saifuddin, A. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Short, JR, Alih bahasa Eric Gultom. 1994. Iktisar Penyakit Anak. Binarupa Aksara. Jakarta.
Sujono, A. 1998. Penatalaksanaan Neonatus Resti. EGC. Jakarta.
Surasmi, A. dkk. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta: EGC
Varney, H. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC
Wong, D. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC


www.smasim_09webs.com
READ MORE - ASFIKSIA

Senin, 03 Mei 2010

Kaitan Cerebral Palsy dan Skor Apgar

Kaitan Cerebral Palsy dan Skor Apgar
Penelitian kohort yang dimuat di BMJ pada pertengahan tahun 2010 ini membahas asosiasi antara skor Apgar 5 menit dan kejadian cerebral palsy (CP) pada bayi dengan berat lahir normal maupun bayi dengan berat lahir rendah. Subjek adalah bayi-bayi yang lahir antara tahun 1986-1995, lahir tunggal, terdaftar di catatan kelahiran Norwegia, dan hidup sampai dengan umur 1 tahun atau lebih. 

Data kasus CP diperoleh dari catatan kasus CP di Norwegia untuk bayi kelahiran 1986-1995 yang diperoleh dari seluruh departemen pediatri dari rumah sakit-rumah sakit di Norwegia. Keluaran yang diamati adalah kejadian CP sebelum usia 5 tahun. Di antara mereka didapatkan 988 anak (0.18%) yang didiagnosis CP sebelum usia 5 tahun. Secara keseluruhan, ditemukan kasus CP sebanyak 11% (39 dari 369 anak) pada riwayat kelahiran dengan skor Apgar kurang dari 3. Sedangkan kasus CP hanya ditemukan sebanyak 0.1% (162 dari 179.515 anak) dari grup dengan riwayat skor Apgar 10 (odds ratio 53, 95% CI, 35-80). 

Untuk anak-anak dengan berat badan lahir normal (2500 gram atau lebih), kejadian CP lebih banyak ditemukan pada grup dengan skor Apgar kurang dari 4 daripada skor Apgar lebih dari 8 (odds ratio 125, 95% CI, 91-170). Sedangkan odds ratio untuk anak dengan berat badan lahir rendah adalah 5 (95% CI, 2-9). Skor Apgar yang rendah memiliki asosiasi paling kuat dengan kejadian kuadriplegia/kelumpuhan empat ekstremitas (odds ratio 137 untuk skor Apgar < 4 vs skor Apgar > 8, 95% CI 77-244).
Dari data di atas, Lie dkk menyimpulkan bahwa skor Apgar yang rendah berhubungan sangat kuat dengan kejadian CP. Dengan mengasumsikan bahwa skor Apgar dapat dijadikan tolok ukur vitalitas bayi segera setelah lahir, peneliti menduga CP tampaknya disebabkan oleh faktor yang berkaitan dengan penurunan vitalitas bayi.


Referensi:
Lie KK, Groeholt EK, Eskild A. Association of cerebral palsy with Apgar score in low and normal birthweight infants: population based cohort study. BMJ 2010; 341: c4990.


www.smasim_09webs.com
READ MORE - Kaitan Cerebral Palsy dan Skor Apgar

Apgar Skor (Kohor Bayi)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Hal yang penting bagi orang tua yang baru memiliki bayi untuk mengetahui nilai Apgar. Penilaian ini dibuat untuk menolong tenaga kesehatan dalam mengkaji kondisi secara umum bayi baru lahir dan memutuskan untuk melakukan tindakan darurat atau tidak. Penilaian ini bukan ditujukan sebagai preidiksi terhadap kesehatan bayi atau perilaku bayi, atau bahkan status intelegensia/kepandaian. Beberapa bayi dapat mencapai angka 10, dan tidak jarang, bayi yang sehat memiliki skor yang lebih rendah dari biasanya, terutama pada menit pertama saat baru lahir. 
Perlu diingai bahwa skor Apgar agak rendah (terutama pada menit pertama) adalah normal pada beberapa bayi baru lahir, terutama bayi yang lahir dari ibu hamil dengan risiko tinggi, lahir melalui proses operasi cesar, atau ibu yang memiliki komplikasi selama kehamilan maupun proses persalinan. Skor Apgar yang rendah juga bisa terjadi pada bayi prematur, dimana kemampuan untuk menggerakkan otot/alat gerak lebih rendah daripada bayi cukup bulan. Bayi prematur dalam kasus apapun akan memerluan pemantauan ekstra dan bantuan pernapasan, dikarenakan paru-paru belum sempurna.
Jika dokter Anda atau tenaga kesehatan peduli terhadap penilaian bayi Anda, maka mereka akan memberitahukan dan menjelaskan kondisi bayi Anda, apa yang mungkin menjadi penyebab masalah, dan penanganan apa yang akan diberikan. Yang paling penting, sebagian besar bayi melakukan penyesuaian dengan baik maka tetap tenang dan jalani proses tersebut dengan sebaik-baiknya. 



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Skor Apgar atau nilai Apgar (bahasa Inggris: Apgar score) adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran. Apgar yang berprofesi sebagai ahli anestesiologi mengembangkan metode skor ini untuk mengetahui dengan pasti bagaimana pengaruh anestesi obstetrik terhadap bayi.
Skor Apgar dihitung dengan menilai kondisi bayi yang baru lahir menggunakan lima kriteria sederhana dengan skala nilai nol, satu, dan dua. Kelima nilai kriteria tersebut kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan angka nol hingga 10. Kata "Apgar" belakangan dibuatkan jembatan keledai sebagai singkatan dari Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration (warna kulit, denyut jantung, respons refleks, tonus otot/keaktifan, dan pernapasan), untuk mempermudah menghafal.
v  Kriteria
Lima kriteria Skor Apgar:

Nilai 0
Nilai 1
Nilai 2
Akronim
Warna kulit
seluruhnya biru
warna kulit tubuh normal merah muda,
tetapi tangan dan kaki kebiruan (
akrosianosis)
warna kulit tubuh, tangan, dan kaki
normal merah muda, tidak ada
sianosis
Appearance
tidak ada
<100 kali/menit
>100 kali/menit
Pulse
Respons refleks
tidak ada respons terhadap stimulasi
meringis/menangis lemah ketika distimulasi
meringis/bersin/batuk saat stimulasi saluran napas
Grimace
lemah/tidak ada
sedikit gerakan
bergerak aktif
Activity
Pernapasan
tidak ada
lemah atau tidak teratur
menangis kuat, pernapasan baik dan teratur
Respiration
Tes ini umumnya dilakukan pada waktu satu dan lima menit setelah kelahiran, dan dapat diulangi jika skor masih rendah.
Jumlah skor
Interpretasi
Catatan
7-10
Bayi normal

4-6
Agak rendah
Memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan lendir yang menyumbat jalan napas, atau pemberian oksigen untuk membantu bernapas.
0-3
Sangat rendah
Memerlukan tindakan medis yang lebih intensif

Jumlah skor rendah pada tes menit pertama dapat menunjukkan bahwa bayi yang baru lahir ini membutuhkan perhatian medis lebih lanjut[4] tetapi belum tentu mengindikasikan akan terjadi masalah jangka panjang, khususnya jika terdapat peningkatan skor pada tes menit kelima. Jika skor Apgar tetap dibawah 3 dalam tes berikutnya (10, 15, atau 30 menit), maka ada risiko bahwa anak tersebut dapat mengalami kerusakan syaraf jangka panjang. Juga ada risiko kecil tapi signifikan akan kerusakan otak. Namun demikian, tujuan tes Apgar adalah untuk menentukan dengan cepat apakah bayi yang baru lahir tersebut membutuhkan penanganan medis segera; dan tidak didesain untuk memberikan prediksi jangka panjang akan kesehatan bayi tersebut.

B.     Apgar Skor Menilai Bayi dengan Cepat
Sesaat setelah bayi lahir, penolong persalinan biasanya langsung melakukan penilaian terhadap bayi tersebut. Perangkat yang digunakan untuk menilai dinamakan Skor APGAR.
Kata APGAR diambil dari nama belakang penemunya, yaitu Dr. Virginia Apgar. Virgnia Apgar adalah seorang ahli anak sekaligus ahli anestesi. Skor ini dipublikasikannya pada tahun 1952. 
Pada tahun 1962, seorang ahli anak bernama Dr. Joseph Butterfield membuat akronim dari kata APGAR yaitu Appearance (warna kulit), Pulse (denyut jantung), Grimace (respon refleks), Activity (tonus otot), and Respiration (pernapasan). (Wikipedia,2007)
Skor Apgar biasanya dinilai pada menit pertama kelahiran dan biasanya diulang pada menit kelima. Dalam situasi tertentu, Skor Apgar juga dinilai pada menit ke 10, 15 dan 20. (MedicineNet,2007)
Ø  Hal yang dinilai pada Skor Apgar adalah :
Appearance (warna kulit)
0—Seluruh tubuh bayi berwarna kebiru-biruan atau pucat
1—Warna kulit tubuh normal, tetapi tangan dan kaki berwarna kebiruan
2—Warna kulit seluruh tubuh normal
Pulse (denyut jantung)
0—Denyut jantung tidak ada
1—Denyut jantung kurang dari 100 kali per menit
2—Denyut jantung lebih atau diatas 100 kali per menti
Grimace (respon refleks)
0—Tidak ada respon terhadap stimulasi
1—Wajah meringis saat distimulasi
2—Meringis, menarik, batuk, atau bersin saat stimulasi 
 Activity (tonus otot)
0—Lemah, tidak ada gerakan
1—Lengan dan kaki dalam posisi fleksi dengan sedikit gerakan
2—Bergerak aktif dan spontan
Respiration (pernapasan)
0—Tidak bernapas
1—Menangis lemah, terdengar seperti merintih, pernapasan lambat dan tidak teratur
2—Menangis kuat, pernapasan baik dan teratur

Kelima hal diatas dinilai kemudian dijumlahkan.  Jika jumlah skor berkisar di 7 – 10 pada menit pertama, bayi dianggap normal. Jika jumlah skor berkisar 4 – 6 pada menit pertama, bayi memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan lendir yang menyumbat jalan napas dengan suction, atau pemberian oksigen untuk membantunya bernapas. Biasanya jika tindakan ini berhasil, keadaan bayi akan membaik (KidsHealth,2004) dan Skor Apgar pada menit kelima akan naik. Jika nilai skor Apgar antara 0 – 3, diperlukan tindakan medis yang lebih intensif lagi.
Perlu diketahui, Skor Apgar hanyalah sebuah tes yang didisain untuk menilai keadaan bayi secara menyeluruh, sehingga dapat ditentukan secara cepat apakah seorang bayi memerlukan tindakan medis segera. Skor Apgar bukanlah patokan untuk memperkirakan kesehatan dan kecerdasan bayi dimasa yang akan datang (KidsHealth,2004).
Sampai sekarang, skor apgar masih terus digunakan. Selain karena ketepatannya, juga karena cara penerapannya sederhana, cepat, dan ringkas.

Ada beberapa hal yang diduga men­jadi penyebab nilai APGAR yang ren­dah pada bayi baru lahir, di antaranya adalah:
·         Per­salinan yang ter­lalu cepat. Hipok­sia (kekurangan oksigen) dapat ter­jadi pada per­salinan yang ter­lalu cepat oleh karena kon­traksi yang ter­lalu kuat atau trauma pada kepala bayi.
·         Ter­jerat tali pusat. Umum dikenal dengan “nuchal cord”, di mana tali pusat (plasenta/ari-ari) melilit pada leher janin (baik sekali waktu atau beberapa kali) dan meng­ganggu aliran darah, maka hipok­sia bisa ter­jadi karena lilitan ini.
·         Prolaps tali pusat. Kon­disi yang ter­jadi ketika tali pusat men­dahului fetus keluar dari rahim. Kon­disi ini adalah kedarutan obs­tetri yang mem­bahayakan kehidupan janin. Namun prolaps tali pusat adalah kasus yang jarang. Ketika fetus juga akan ikut lahir, sering kali menekan tali pusat dan menim­bulkan hipoksia.
·         Plasenta previa (placenta preavia). Merupakan kon­disi kelainan obs­tretri di mana tali pusat ter­hubung pada din­ding rahim yang letak­nya dekat atau menutup leher rahim. Hal ini mening­katkan risiko per­darahan antepar­tum (vaginal), yang ber­ujung juga pada hipok­sia bagi janin.
·         Aspirasi mekonium. Jika mekonium di ada dalam paru-paru fetus, maka bisa ter­jadi per­masalahan per­napasan. Hal ini dikenal juga seba­gai “Sin­drom Aspirasi Mekonium”.
·         Beberapa sebab lain bisa ber­upa obat-obatan yang dikon­sumsi ibu sebelum per­salinan, dan bayi preterm (prematur).

Karena nilai APGAR ren­dah ber­makna kesulitan bayi baru lahir ber­adap­tasi pada ling­kungan barunya, sering kali penilaian yang menun­jukkan skor APGAR ren­dah ber­kepan­jangan dihubungkan dengan kemung­kinan pening­katan kom­plikasi neurologis. Beberapa penelitian men­duga ada keter­kaitan skor APGAR ren­dah dengan kon­disi psikologis dan kog­nitif anak di masa kemudian, seperti pening­katan risiko ADHD atau penurunan kemam­puan kognitif.

C.    Faktor Kegagalan Pernafasan Pada Bayi
Pengolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari:
1.      Faktor Ibu
a.       Hipoksia ibu
Terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anestesia dalam. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin.
b.      Gangguan aliran darah uterus
Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada :
·         Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat.
·         Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
·         Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
2.      Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta.
Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta dan lain-lain.
3.      Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
4.      Faktor Neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena :
1.      Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.
2.      Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah intrakranial.
Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Sesaat setelah bayi lahir, penolong persalinan biasanya langsung melakukan penilaian terhadap bayi tersebut. Perangkat yang digunakan untuk menilai dinamakan Skor Apgar. Apgar score adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran.
Skor Apgar hanyalah sebuah tes yang didisain untuk menilai keadaan bayi secara menyeluruh, sehingga dapat ditentukan secara cepat apakah seorang bayi memerlukan tindakan medis segera. Skor Apgar bukanlah patokan untuk memperkirakan kesehatan dan kecerdasan bayi dimasa yang akan datang.

B.     Saran
Dalam pembuatan makalah ini, penulis sadar bahwa begitu banyak kekurangan, karena itu kritikan dari pembaca sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah ini.
Penulis juga berharap, kiranya makalah ini dapat “bermanfaat” baik bagi penulis maupun pembaca terutama memahami lebih banyak tentang Kohor Bayi.


DAFTAR PUSTAKA






http://smasim-09.blogspot.com/2010/05/virginia-apgar.html
READ MORE - Apgar Skor (Kohor Bayi)