Pages

Sabtu, 19 Maret 2011

ASFIKSIA

ASFIKSIA
A. Definisi Asfiksia
1.      Pengertian
a.  Asfiksia neonatorum adalah di mana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir keadaan tersebut dapat disertai dengan adanya hipoksia, hiperkapnea dan sampai ke asidosis   (Hidayat, 2005).
b.  Asfiksia neonatorum adalah  kegagalan bernafas secara spontan  dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan  PaO2 di dalam darah (hipoksemia), hiperkabia (PaCO2) meningkat dan asidosis (Utomo, 2006).
c.  Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang mengalami kegagalan bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir (Kamarrullah, 2005).
d.  Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2­ (oksigen) dan mungkin meningkatkan CO2 (karbondioksida) yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Purwadianto, 2000).
e. Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur (Waspodo dkk (ed), 2007).
2.      Klasifikasi Asfiksia Neonatus dapat dibagi dalam :
Menurut Kamarullah (2005) klasifikasi asfiksia dibagi menjadi :
a.  Asfiksia Ringan
Skor APGAR 7-10. Bayi dianggap sehat, dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
b.  Asfiksia Sedang
Skor APGAR 4-6. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi tentang lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
c.  Asfiksia Berat
Skor APGAR 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada, pada asfiksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung  fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang post partum  pemeriksaan fisik sama asfiksia berat (Kamarullah,2005).
3.      Cara menilai tingkatan apgar score
Cara menilai tingkatan apgar score menurut Utomo (2006) adalah dengan :
a.  Menghitung frekuensi jantung
b.  Melihat usaha bernafas
c.   Menilai tonus otot
d.   Menilai reflek rangsangan
e.   Memperlihatkan warna kulit

Di bawah ini adalah tabel untuk menentukan tingkat derajat asfiksia yang dialami bayi:
Tabel 2 .1  Nilai APGAR.
Tanda
0
1
2
Detak jantung Pernafasan
Tonus otot
Reflek saat jalan nafas  dibersihkan
Warna
Tak ada Tidak ada
Lunglai
Tidak ada

Biru/pucat
<100 x/mnt Tidak teratur
Ekstremitas lemah
Menyeringai
Tubuh kemerahan
Ekstremitas  Biru
>100 x/mnt Menangis kuat
Gerakan aktif
Batuk/bersin

Merah seluruh tubuh
Sumber : Utomo, (2006).

Menurut Mochtar (1998) asfiksia dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a.     Asfiksia livida (biru)
b.     Asfiksia Pallida (putih)
Tabel 2.2 Perbedaan  antara asfiksia  livida dan asfiksia pallida
Perbedaan Asfiksia livida Asfiksia Pallida
Warna kulit Tonus otot
Reaksi rangsangan
Bunyi jantung
Prognosis
Kebiru-biruan Masih baik
Positif
Masih teratur
Lebih baik
Pucat Sudah kurang
Negatif
Tidak teratur
jelek

Asfiksia livida lebih baik dari pada asfiksia pallida, prognosis tergantung pada kekurangan O2 dan luasnya perdarahan dalam otak. Bayi yang dalam keadaan asfiksia dan pulih kembali harus di pikirkan kemungkinannya  menderita cacat mental seperti epilepsi dan bodoh pada masa mendatang.

4.    Diagnosis asfiksia
Menurut Wiknjosastro (2005) diagnosis asfiksia adalah sebagai berikut :
a.  DJJ
Keadaan di mana denyut jantung  janin frekuensi turun sampai di bawah 100/menit di luar his, atau denyut jantung tidak teratur elektro kardiogram janin digunakan untuk terus menerus  mengawasi jantung janin.
b.  Mekonium dalam air ketuban
Terdapatnya mekonium pada presentasi kepala, menunjukkan gangguan oksigenasi, dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan.
c. Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop diambil contoh darah janin, adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Bila pH turun sampai di bawah 7,2 merupakan tanda bahaya bagi janin.


B. Etiologi
Menurut Kamarullah (2005) penyebab asfiksia adalah Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena gangguan pertukaran gas transport O2 dari ibu ke janin sehungga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2.gangguan ini dapat berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan, atau secara mendadak karena hal-hal yang diderita ibu dalam persalinan.

Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi yang buruk, penyakit menahun seperti anemia, hipertensi, jantung dan lain-lain. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan yang besifat mendadak yaitu faktor janin berupa gangguan aliran darah dalam tali pusat, depresi pernapasan karena obat-obatan anestesi/analgetika yang diberikan ke ibu, perdarahan intrakranial, kelainan bawaan seperti hernia diafragmatika, atresia saluran pernapasan, hipoplasia paru-paru dan lain-lain. Sedangkan faktor dari ibu adalah gangguan his misalnya hipertonia dan tetani, hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi, dan eklamsia, gangguan mendadak pada plasenta seperti solusio plasenta.

Menurut Oxorn (2003), penyebab asfiksia adalah sebagai berikut :
a.  Pada saat kehamilan
1.  Sebab-sebab maternal
a)   Anemia
b)   Perdarahan dan syok
c)    Penyakit kardiorespiratorik
d)    Toxemia gravidarum
e)    Umur ibu lebih dari 40 tahun
f)     Grandemultipara

2.   Sebab-sebab pada placenta
a)   Penyakit pada placenta
b)   Perdarahan (placenta previa)
3.    Sebab-sebab pada funiculus umbilicalis
a)   Prolapsus
b)   Membelit dan simpul
c)    Kompresi
4.    Sebab-sebab fetal
a)   Anomali kongenital
b)   Prematuritas
c)   Ketuban pecah dini yang membawa infeksi
d)   Kehamilan lama
b.  Persalinan dan kehamilan
1)   Anoreksia akibat kontraksi uterus yang terlampau kuat dan berlangsung terlampau lama.
2)  Narkosis akibat pemberian analgesik dan anestesi yang berlebihan.
3)   Hipotensi maternal akibat anastesi spinal.
4)   Obstruksi saluran nafas akibat aspirasi darah, lendir.
5)   Partus lama
6)   Kelahiran yang sukar (dengan atau tanpa forcep) sehingga menyebabkan perdarahan cerebral atau kerusakan pada sistem saraf pusat.
Menurut Waspodo dkk (ed) (2007), faktor-faktor penyebab timbulnya asfiksia (gawat janin) adalah :
a.  Faktor ibu
1)   Pre eklampsia dan eklampsia
2)   Perdarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
3)   Partus lama atau partus macet
4)   Demam selama persalinan
5)  Infeksi berat seperti malaria, sifilis, TBC (Tuberculosis), HIV (Human Immunology Virus)
6)  Kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
b.  Faktor tali pusat
1)   Lilitan tali pusat
2)   Tali pusat pendek
3)   Simpul tali pusat
4)    Prolapsus tali pusat
c.   Faktor bayi
1)   Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
2)   Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
3)  Kelainan bawaan (konginetal)
4)   Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
Menurut Towel (1996), Penggolongan Penyebab Kegagalan Pernapasan Pada bayi yang terdiri dari :
a.   Faktor Ibu
1.    Hipoksia Ibu, hal ini akan menimbulkan hipoksia janin, hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anastesi dalam
2.    Gangguan aliran darah uterus
3.    Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya penga,liran O2 ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada kasus-kasus.
a)    Gangguan kontrasi uterus, misalnya : Hipertensi, Hipotoni / uterus akibat penyakit atau obat
b)    Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan
c)    Hipertensi pada penyakit eklamsia.
b.    Faktor Plasenta
Solusi plasenta. Perdarahan plasenta, dan lain-lain
c.   Fator Fetus
Tali pusat menumbung lilitan tali pusat, kompresi tali pusat antara   janin dan jalan lahir
d.   Faktor Neonatus
1.    Pemakaian obat anastesi / analgetika yang berlebihan pada itu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernapasan janin.
2.   Trauma yang terjadi pada persalinan. Misalnya : Perdarahan Intra Cranial
3.   Kelainan Kongenital. Misalnya : Hernia diafragmatika atresia saluran pernapasan hipoplasia paru dan lain-lain. (Wiknjosastro, 1999).

C. Tanda dan Gejala
Menurut Winkjosastro (1999), tanda dan gejala asfiksia yaitu:
1.    Hipoksia
2.    Respirasi > 60 x/mnt atau < 30 x/mnt
3.    Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas
4.    Bradikardia
5.   Tonus otot berkurang
6.  Warna kulit sianotik/pucat
Menurut Waspodo,dkk (2007), tanda dan gejala asfiksia adalah:
1.  Tidak bernapas atau napas megap-megap atau pernapasan lambat (kurang dari 30 kali per menit)
2.   Pernapasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (pelekukan dada)
3.   Tangisan lemah atau merintih
4.    Warna kulit pucat atau biru
5.   Tonus otot lemas atau ekstremitas lemah
6.   Denyut jantung tidak ada atau lambat (bradikardi) (kurang dari 100 kali per menit).

D. Patofisiologi
Pernapasan Spontan BBL tergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Bila terdapat gangguan Pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan / persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode opnu (Primary Apnoe) disertai dengan penurunan frekuensi diikuti oleh pernapasan teratur. Pada penerita asfiksia berat. Usaha bernafas tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnue kedua. Pada tingkat ini terjadi bradikardi dan penurunan tensi darah.
Pada asfiksia terjadi pula gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-asam pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama hanya menimbulkan asidosis respiraktonik. Bila gangguan berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an aerobic yang berupa glikolisis gukogen tubuh. Sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardio vaskuler yang disebabakan oleh beberapa keadaan diantarannya :
a.   Hilangnya Sumber Glukogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung
b.   Terjadi asidosis metabolis akan menimbulkan kelemahan otot jantung
c.    Pengisian udara alucolus yang kurang adekuat akan mengakibatkan tetap tingginya Resistensi Pembuluh darah Paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan demikian pula kesistem sirkulasi tubuh lain akan mengalami gangguan. (Rustam, 1998)
Pada keadaan asfiksia yang perlu mendapat perhatian sebaiknya :
a.    Menurunnya tekanan O2 darah (Pa O2)
b.    Meningginya tekanan O2 darah (Pa O2)
c.     Menurunya PH (akibat osidosis respirantorik dan metabolik)
d.    Dipakainya sumber glukogen tubuh untuk metabolisme an-aerobic
e.     Terjadinya perubahan sistem kardiovaskuler
Dalam menentukan tingkat asfiksia neonatorum digunakan kriteria penilaian yaitu yang disebut dengan skor APGAR. Skor APGAR biasanya dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap pada skor APGAR menit 1 ini menunjukan beratnya ASFIKSIA yang diderita dan untuk menentukan pedoman resusitasi dan perlu juga dinilai setelah 5 menit bayi lahir karena hal ini mempunyai koralasi yang erat dengan morbiditas dan mertilitas neonatal.
Menurut Kamarullah (2005), patofisiologi asfiksia adalah Pernapasan spontan bayi baru lahir tergantung pada keadaan janin pada masa hamil dan persalinan. Proses kelahiran sendiri akan menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara. Proses ini sangat perlu untuk merangsang hemoreseptor pusat pernapasan untuk terjadinya usaha pernafasan yang pertama yang kemudian akan berlanjut menjadi pernapasan yang teratur. Pada penderita asfiksia berat usaha napas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya dalam periode apnue. Pada tingkat ini disamping penurunan frekuensi denyut jantung (bradikardi) ditemukan pula penurunan tekanan darah dan bayi nampak lemas (flasid). Pada asfiksia berat bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukkan upaya bernapas secara spontan. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas atau transport O2 (menururunnya tekanan O2 darah) mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik, tetapi bila gangguan berlanjut maka akan terjadi perubahan kardiovaskuler. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel-sel otak, kerusakan sel-sel otak ini dapat menimbulkan kematian atau gejala (squele).

E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan asfiksia sedang menurut Wiknjosastro (2005) adalah sebagai berikut :
a.   Tindakan umum
1)    Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel jaringan sehingga kebutuhan oksigen meningkat, perlu diperhatikan untuk menjaga kehangatan suhu BBL dengan :
a)    Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.
b)    Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar.
c)    Bungkus bayi dengan kain kering.
2)   Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan amnion, kepala bayi harus posisi lebih rendah sehingga memudahkan keluarnya lendir.
3)   Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan
Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua telapak kaki bayi, menekan tendon achilles atau memberikan suntikan vitamin K. Hal ini berfungsi memperbaiki ventilasi.
b.   Tindakan khusus
1)   Asfiksia berat (nilai apgar 0-3)
Resusitasi aktif dalam hal ini harus segera dilakukan yaitu dengan :
a)    Memperbaiki ventilasi paru-paru dengan memberikan O2 secara langsung dan berulang atau dengan melakukan intubasi endotracheal dan O2 dimasukkan dengan tekanan tidak lebih dari 30 ml. Hal ini mencegah terjadinya iritasi paru berlebihan sehingga dapat terjadi ruptur aveoli. Tekanan positif ini dilakukan dengan meniupkan udara ke dalam kateter dari mulut ke pipa atau ventilasi kantong ke pipa.
b)   Memberikan natrikus bikarbonat dengan dosis 2-4 mEQ/kg BB
c)    Masase jantung dikerjakan dengan melakukan penekanan diatas tulang dada secara teratur 80-100 x/mnt. Tindakan ini berselingan dengan nafas buatan, yaitu setiap 5 x masase diikuti 1x pemberian nafas. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya komplikasi pneumotoracks jika  tindakan ini dilakukan bersamaan.
d)    Memberikan obat-obatan 1/10.000 andrelin dengan dosis 0,5-   1 cc secara intravena (sebegai obat inotropik) dan kalsium glukonat 50-100 mm/kg BB secara intravena, untuk meningkatkan frekuensi jantung.
2)   Asfiksia sedang (Nilai Apgar 4-6)
Dilakukan rangsangan untuk menimbulkan reflek pernafasan dengan :
a)    Melakukan rangsangan 30-60 detik setelah penilaian APGAR   1 menit.
b)   Melakukan nafas buatan dengan memasukkan pipa ke dalam hidung, O2 dialirkan dengan kecepatan 1-2 liter/menit. Bayi diletakkan dengan kepala dalam dorsofleksi, dilakukan dengan membuka dan menutup lubang hidung dan mulut disertai dengan menggerakkan dagu ke atas dan kebawah dalam frekuensi 20 x/ menit.
c)    Melakukan pernafasan mulut ke mulut yag seharusnya dalam mulut bayi dimasukkan pharingeal airway yang berfungsi mendorong pangkal lidah ke depan, sebelum mulut penolong diisi O2 sebelum peniupan, peniupan dilakukan secara teratur dengan frekuensi 20-30 x/menit.
c.   Tindakan lain dalam resusitasi
1)      Pengisapan cairan lambung dilakukan pada bayi-bayi tertentu yaitu pada bayi prematur, sebelumnya bayi mengalami gawat janin, pada ibu yang mendapatkan anastesia dalam persalinan.
2)      Penggunaan obat Nalorphin diberikan pada bayi yang disebabkan oleh penekanan pernafasan akibat morfin atau petidin yang diberikan selama proses persalinan
Menurut Hidayat (2005), Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan asfiksia, antara lain
a.  Asfiksi Ringan (Apgar score 7-10)
Caranya:
1.      Bayi dibungkus dengan kain hangat
2.      Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung kemudian mulut
3.      Bersihkan badan dan tali pusat.
4.      Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke dalam inkubator.
b.      Asfiksia sedang (Apgar score 4-6)
Caranya :
1.      Bersihkan jalan napas.
2.      Berikan oksigen 2 liter per menit.
3.      Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada reaksi,bantu pernapasan dengan melalui masker (ambubag).
4.      Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5%sebanyak 6cc.Dextrosa 40% sebanyak 4cc disuntikan melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan, untuk mencegah tekanan intra kranial meningkat.
c.       Asfiksia berat (Apgar skor 0-3)
1.      Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.
2.      Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
3.      Bila tidak berhasil lakukan ETT.
4.      Bersihkan jalan napas melalui ETT.
5.      Apabila bayi sudah mulai benapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc.

DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, P. 2002. Praktisi Pelayanan Kesehatan Material dan Neonatal Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono, P. 1992. Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Mochtar, R. 1998. Sinopsis obstetric. Jakarta : EGC
Mochtar, R. 1998. Obstetric Fisiologis. Jakarta : EGC
Mochtar, R. 1998. Obstetric Patologi. Jakarta : EGC
Dep. Kes. RI. 2005.  Asuhan Persalinan Normal. Jakarta
Dep. Kes. RI. 2007. Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
FKUI. 2005. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Infomedika
Hidayat, A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika.
Ladewig, P. 2006. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir. Jakarta: EGC.
Meadow, R. dan Newell, S. 2005. Lectrure Notes Pediatrika. Jakarta: Erlangga.
Nelson, J. 1994. Ilmu  Kesehatan  Anak, Jilid I. ECG. Jakarta.
Saifuddin, A. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Saifuddin, A. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Short, JR, Alih bahasa Eric Gultom. 1994. Iktisar Penyakit Anak. Binarupa Aksara. Jakarta.
Sujono, A. 1998. Penatalaksanaan Neonatus Resti. EGC. Jakarta.
Surasmi, A. dkk. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta: EGC
Varney, H. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC
Wong, D. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC


www.smasim_09webs.com
READ MORE - ASFIKSIA

Minggu, 15 Agustus 2010

Dokter

Dokter (dari bahasa Latin yang berarti "guru") adalah seseorang yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang-orang yang sakit. Tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Untuk menjadi dokter biasanya diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dan mempunyai gelar dalam bidang kedokteran.

Untuk menjadi seorang dokter, seseorang harus menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran selama beberapa tahun terggantung sistem yang dipakai oleh Universitas tempat Fakultas Kedokteran itu berada.
Di Indonesia Pendidikan Dokter mengacu pada suatu Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI). Saat ini digunakan KIPDI III yang menggunakan sistem Problem Based Learning.

Pendidikan dokter di Indonesia membutuhkan 10 semester untuk menjadi dokter, 7 semester untuk mendapatkan gelar sarjana (Sarjana Kedokteran/S.Ked) ditambah 3 sampai 4 semester kepaniteraan klinik senior atau ko-asisten (clerkship) di Rumah Sakit.[rujukan?]


Untuk menjadi seorang dokter, lulusan Sekolah Menengah Umum mengikuti Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) di Institusi Pendidikan Dokter yang ada di Indonesia. Pada awal tahun 2011 telah terdaftar 71 PSPD di seluruh Indonesia. Di Indonesia Pendidikan Dokter mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia dan Standar Pendidikan Profesi Dokter yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia pada tahun 2006. Bentuk kurikulum program studi dokter saat ini adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang terdiri atas 3 tahap yaitu tahap pendidikan umum (1 semester), tahap pendidikan ilmu kedokteran (minimum 6 semester) dan tahap pembelajaran klinik (minimum 3 semester).

Secara keseluruhan untuk mencapai gelar dokter dibutuhkan minimum 10 semester pendidikan. Setelah itu dokter yang baru lulus harus mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang diselenggarakan oleh Komite Bersama Kolegium Dokter Indonesia (KDI) di bawah IDI dan seteah lulus memperoleh Sertifikat Kompetensi Dokter. Setelah memperoleh Sertifikat Kompetensi Dokter, seorang dokter lulusan KBK dapat mengikuti program internship selama 1 tahun. Program internship diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Dokter yang telah selesai mengikuti program internship berhak untuk mengajukan Surat Ijin Praktik secara mandiri. Dokter yang telah mengikuti program internship dapat memilih jalur karier praktiknya. Apakah menjadi dokter spesialis, atau menjadi dokter praktik umum, Dokter spesialis adalah dokter yang telah mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Di Indonesia sekarang terdapat lebih dari 30 jenis spesialisasi yang dapat dipilih. Dokter spesialis akan berpraktik pada layanan kesehatan sekunder dan tersier (di rumah sakit).

Dokter praktik umum adalah dokter yang berpraktik di layanan primer (puskesmas atau klinik medik). Dokter praktik umum menjadi pintu gerbang pelayanan kedokteran. Karena derajat kesehatan di suatu negara akan baik bila dokter di layanan primernya berkualitas, maka peran dokter praktik umum di suatu negara sangat penting. Dokter praktik umum dianjurkan untuk terus memperbaharui pengetahuan dan mengasah ketrampilannya untuk menjaga kualitas.

Dokter praktik umum yang telah mengikuti beberapa ketrampilan yang diperlukan dan menunjukkan bahwa memperbaharui pengetahuannya secara terus menerus, berhak untuk disebut sebagai dokter keluarga yang dikeluarkan sertifikatnya oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI).

Dokter Keluarga adalah dokter praktik umum yang berhak untuk menjadi penyedia pelayanan kedokteran di tingkat primer bagi pasien-pasien yang tergabung dalam suatu perusahaan asuransi kesehatan. Pada akhir Oktober 2010 pada Konsil Kedokteran Indonesia terdaftar 73.574 dokter, 19.128 dokter spesialis.

READ MORE - Dokter

Rabu, 12 Mei 2010

Virginia Apgar

Virginia Apgar (7 Juni 1909– 7 Agustus 1974) adalah seorang dokter wanita Amerika Serikat. Dia adalah ahli di bidang anastesi, teratologi dan pendiri bidang neonatologi. Bagi khayalak ramai dia terkenal sebagai penemu metode penentuan kesehatan bayi yang baru lahir yang dikenal sebagai Skor Apgar. Hasil penemuan ini telah mengurangi jumlah kematian bayi di seluruh dunia.

Daftar Isi

Biografi
Apgar lulus dari pendidikan di Mount Holyoye College pada tahun 1929 dan kemudian dari Columbia University College of Physician & Surgeon pada tahun 1933. Virginia menyelesaikan residency sebagai dokter bedah pada tahun 1937. Walaupun demikian dia tidak disarankan untuk mempraktekan pembedahan oleh Dr. Allen Whipple. Pada tahun 1938 ia menempuh pendidikan dalam bidang anestesia dan kembali ke Columbia pada tahun 1938 sebagai direktur departemen anestesia.

Pada tahun 1949 Virginia Apgar menjadi wanita pertama yang dianugerahkan gelar profesor di Columbia University P&S. Pada tahun 1953 dia mengenalkan tes pertama yang dikenal sebagai Skor Apgar bagi bayi yang baru lahir. Dalam test itu dicatat kondisi bayi 1 menit, 5 menit dan 10 menit setelah lahir.
Apgar tidak pernah menikah, dan meninggal pada 7 Agustus 1974 di Columbia-Presbyterian Medical Center.


Karya yang dipublikasikan
  • Lebih dari enam puluh makalah ilmiah
  • Makalah-makalah untuk media massa populer

    Penghargaan

    www.smasim_09webs.com
      READ MORE - Virginia Apgar

      Senin, 03 Mei 2010

      Kaitan Cerebral Palsy dan Skor Apgar

      Kaitan Cerebral Palsy dan Skor Apgar
      Penelitian kohort yang dimuat di BMJ pada pertengahan tahun 2010 ini membahas asosiasi antara skor Apgar 5 menit dan kejadian cerebral palsy (CP) pada bayi dengan berat lahir normal maupun bayi dengan berat lahir rendah. Subjek adalah bayi-bayi yang lahir antara tahun 1986-1995, lahir tunggal, terdaftar di catatan kelahiran Norwegia, dan hidup sampai dengan umur 1 tahun atau lebih. 

      Data kasus CP diperoleh dari catatan kasus CP di Norwegia untuk bayi kelahiran 1986-1995 yang diperoleh dari seluruh departemen pediatri dari rumah sakit-rumah sakit di Norwegia. Keluaran yang diamati adalah kejadian CP sebelum usia 5 tahun. Di antara mereka didapatkan 988 anak (0.18%) yang didiagnosis CP sebelum usia 5 tahun. Secara keseluruhan, ditemukan kasus CP sebanyak 11% (39 dari 369 anak) pada riwayat kelahiran dengan skor Apgar kurang dari 3. Sedangkan kasus CP hanya ditemukan sebanyak 0.1% (162 dari 179.515 anak) dari grup dengan riwayat skor Apgar 10 (odds ratio 53, 95% CI, 35-80). 

      Untuk anak-anak dengan berat badan lahir normal (2500 gram atau lebih), kejadian CP lebih banyak ditemukan pada grup dengan skor Apgar kurang dari 4 daripada skor Apgar lebih dari 8 (odds ratio 125, 95% CI, 91-170). Sedangkan odds ratio untuk anak dengan berat badan lahir rendah adalah 5 (95% CI, 2-9). Skor Apgar yang rendah memiliki asosiasi paling kuat dengan kejadian kuadriplegia/kelumpuhan empat ekstremitas (odds ratio 137 untuk skor Apgar < 4 vs skor Apgar > 8, 95% CI 77-244).
      Dari data di atas, Lie dkk menyimpulkan bahwa skor Apgar yang rendah berhubungan sangat kuat dengan kejadian CP. Dengan mengasumsikan bahwa skor Apgar dapat dijadikan tolok ukur vitalitas bayi segera setelah lahir, peneliti menduga CP tampaknya disebabkan oleh faktor yang berkaitan dengan penurunan vitalitas bayi.


      Referensi:
      Lie KK, Groeholt EK, Eskild A. Association of cerebral palsy with Apgar score in low and normal birthweight infants: population based cohort study. BMJ 2010; 341: c4990.


      www.smasim_09webs.com
      READ MORE - Kaitan Cerebral Palsy dan Skor Apgar

      Apgar Skor (Kohor Bayi)


      BAB I
      PENDAHULUAN

      A.    Latar Belakang
      Hal yang penting bagi orang tua yang baru memiliki bayi untuk mengetahui nilai Apgar. Penilaian ini dibuat untuk menolong tenaga kesehatan dalam mengkaji kondisi secara umum bayi baru lahir dan memutuskan untuk melakukan tindakan darurat atau tidak. Penilaian ini bukan ditujukan sebagai preidiksi terhadap kesehatan bayi atau perilaku bayi, atau bahkan status intelegensia/kepandaian. Beberapa bayi dapat mencapai angka 10, dan tidak jarang, bayi yang sehat memiliki skor yang lebih rendah dari biasanya, terutama pada menit pertama saat baru lahir. 
      Perlu diingai bahwa skor Apgar agak rendah (terutama pada menit pertama) adalah normal pada beberapa bayi baru lahir, terutama bayi yang lahir dari ibu hamil dengan risiko tinggi, lahir melalui proses operasi cesar, atau ibu yang memiliki komplikasi selama kehamilan maupun proses persalinan. Skor Apgar yang rendah juga bisa terjadi pada bayi prematur, dimana kemampuan untuk menggerakkan otot/alat gerak lebih rendah daripada bayi cukup bulan. Bayi prematur dalam kasus apapun akan memerluan pemantauan ekstra dan bantuan pernapasan, dikarenakan paru-paru belum sempurna.
      Jika dokter Anda atau tenaga kesehatan peduli terhadap penilaian bayi Anda, maka mereka akan memberitahukan dan menjelaskan kondisi bayi Anda, apa yang mungkin menjadi penyebab masalah, dan penanganan apa yang akan diberikan. Yang paling penting, sebagian besar bayi melakukan penyesuaian dengan baik maka tetap tenang dan jalani proses tersebut dengan sebaik-baiknya. 



      BAB II
      PEMBAHASAN

      A.    Pengertian
      Skor Apgar atau nilai Apgar (bahasa Inggris: Apgar score) adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran. Apgar yang berprofesi sebagai ahli anestesiologi mengembangkan metode skor ini untuk mengetahui dengan pasti bagaimana pengaruh anestesi obstetrik terhadap bayi.
      Skor Apgar dihitung dengan menilai kondisi bayi yang baru lahir menggunakan lima kriteria sederhana dengan skala nilai nol, satu, dan dua. Kelima nilai kriteria tersebut kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan angka nol hingga 10. Kata "Apgar" belakangan dibuatkan jembatan keledai sebagai singkatan dari Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration (warna kulit, denyut jantung, respons refleks, tonus otot/keaktifan, dan pernapasan), untuk mempermudah menghafal.
      v  Kriteria
      Lima kriteria Skor Apgar:

      Nilai 0
      Nilai 1
      Nilai 2
      Akronim
      Warna kulit
      seluruhnya biru
      warna kulit tubuh normal merah muda,
      tetapi tangan dan kaki kebiruan (
      akrosianosis)
      warna kulit tubuh, tangan, dan kaki
      normal merah muda, tidak ada
      sianosis
      Appearance
      tidak ada
      <100 kali/menit
      >100 kali/menit
      Pulse
      Respons refleks
      tidak ada respons terhadap stimulasi
      meringis/menangis lemah ketika distimulasi
      meringis/bersin/batuk saat stimulasi saluran napas
      Grimace
      lemah/tidak ada
      sedikit gerakan
      bergerak aktif
      Activity
      Pernapasan
      tidak ada
      lemah atau tidak teratur
      menangis kuat, pernapasan baik dan teratur
      Respiration
      Tes ini umumnya dilakukan pada waktu satu dan lima menit setelah kelahiran, dan dapat diulangi jika skor masih rendah.
      Jumlah skor
      Interpretasi
      Catatan
      7-10
      Bayi normal

      4-6
      Agak rendah
      Memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan lendir yang menyumbat jalan napas, atau pemberian oksigen untuk membantu bernapas.
      0-3
      Sangat rendah
      Memerlukan tindakan medis yang lebih intensif

      Jumlah skor rendah pada tes menit pertama dapat menunjukkan bahwa bayi yang baru lahir ini membutuhkan perhatian medis lebih lanjut[4] tetapi belum tentu mengindikasikan akan terjadi masalah jangka panjang, khususnya jika terdapat peningkatan skor pada tes menit kelima. Jika skor Apgar tetap dibawah 3 dalam tes berikutnya (10, 15, atau 30 menit), maka ada risiko bahwa anak tersebut dapat mengalami kerusakan syaraf jangka panjang. Juga ada risiko kecil tapi signifikan akan kerusakan otak. Namun demikian, tujuan tes Apgar adalah untuk menentukan dengan cepat apakah bayi yang baru lahir tersebut membutuhkan penanganan medis segera; dan tidak didesain untuk memberikan prediksi jangka panjang akan kesehatan bayi tersebut.

      B.     Apgar Skor Menilai Bayi dengan Cepat
      Sesaat setelah bayi lahir, penolong persalinan biasanya langsung melakukan penilaian terhadap bayi tersebut. Perangkat yang digunakan untuk menilai dinamakan Skor APGAR.
      Kata APGAR diambil dari nama belakang penemunya, yaitu Dr. Virginia Apgar. Virgnia Apgar adalah seorang ahli anak sekaligus ahli anestesi. Skor ini dipublikasikannya pada tahun 1952. 
      Pada tahun 1962, seorang ahli anak bernama Dr. Joseph Butterfield membuat akronim dari kata APGAR yaitu Appearance (warna kulit), Pulse (denyut jantung), Grimace (respon refleks), Activity (tonus otot), and Respiration (pernapasan). (Wikipedia,2007)
      Skor Apgar biasanya dinilai pada menit pertama kelahiran dan biasanya diulang pada menit kelima. Dalam situasi tertentu, Skor Apgar juga dinilai pada menit ke 10, 15 dan 20. (MedicineNet,2007)
      Ø  Hal yang dinilai pada Skor Apgar adalah :
      Appearance (warna kulit)
      0—Seluruh tubuh bayi berwarna kebiru-biruan atau pucat
      1—Warna kulit tubuh normal, tetapi tangan dan kaki berwarna kebiruan
      2—Warna kulit seluruh tubuh normal
      Pulse (denyut jantung)
      0—Denyut jantung tidak ada
      1—Denyut jantung kurang dari 100 kali per menit
      2—Denyut jantung lebih atau diatas 100 kali per menti
      Grimace (respon refleks)
      0—Tidak ada respon terhadap stimulasi
      1—Wajah meringis saat distimulasi
      2—Meringis, menarik, batuk, atau bersin saat stimulasi 
       Activity (tonus otot)
      0—Lemah, tidak ada gerakan
      1—Lengan dan kaki dalam posisi fleksi dengan sedikit gerakan
      2—Bergerak aktif dan spontan
      Respiration (pernapasan)
      0—Tidak bernapas
      1—Menangis lemah, terdengar seperti merintih, pernapasan lambat dan tidak teratur
      2—Menangis kuat, pernapasan baik dan teratur

      Kelima hal diatas dinilai kemudian dijumlahkan.  Jika jumlah skor berkisar di 7 – 10 pada menit pertama, bayi dianggap normal. Jika jumlah skor berkisar 4 – 6 pada menit pertama, bayi memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan lendir yang menyumbat jalan napas dengan suction, atau pemberian oksigen untuk membantunya bernapas. Biasanya jika tindakan ini berhasil, keadaan bayi akan membaik (KidsHealth,2004) dan Skor Apgar pada menit kelima akan naik. Jika nilai skor Apgar antara 0 – 3, diperlukan tindakan medis yang lebih intensif lagi.
      Perlu diketahui, Skor Apgar hanyalah sebuah tes yang didisain untuk menilai keadaan bayi secara menyeluruh, sehingga dapat ditentukan secara cepat apakah seorang bayi memerlukan tindakan medis segera. Skor Apgar bukanlah patokan untuk memperkirakan kesehatan dan kecerdasan bayi dimasa yang akan datang (KidsHealth,2004).
      Sampai sekarang, skor apgar masih terus digunakan. Selain karena ketepatannya, juga karena cara penerapannya sederhana, cepat, dan ringkas.

      Ada beberapa hal yang diduga men­jadi penyebab nilai APGAR yang ren­dah pada bayi baru lahir, di antaranya adalah:
      ·         Per­salinan yang ter­lalu cepat. Hipok­sia (kekurangan oksigen) dapat ter­jadi pada per­salinan yang ter­lalu cepat oleh karena kon­traksi yang ter­lalu kuat atau trauma pada kepala bayi.
      ·         Ter­jerat tali pusat. Umum dikenal dengan “nuchal cord”, di mana tali pusat (plasenta/ari-ari) melilit pada leher janin (baik sekali waktu atau beberapa kali) dan meng­ganggu aliran darah, maka hipok­sia bisa ter­jadi karena lilitan ini.
      ·         Prolaps tali pusat. Kon­disi yang ter­jadi ketika tali pusat men­dahului fetus keluar dari rahim. Kon­disi ini adalah kedarutan obs­tetri yang mem­bahayakan kehidupan janin. Namun prolaps tali pusat adalah kasus yang jarang. Ketika fetus juga akan ikut lahir, sering kali menekan tali pusat dan menim­bulkan hipoksia.
      ·         Plasenta previa (placenta preavia). Merupakan kon­disi kelainan obs­tretri di mana tali pusat ter­hubung pada din­ding rahim yang letak­nya dekat atau menutup leher rahim. Hal ini mening­katkan risiko per­darahan antepar­tum (vaginal), yang ber­ujung juga pada hipok­sia bagi janin.
      ·         Aspirasi mekonium. Jika mekonium di ada dalam paru-paru fetus, maka bisa ter­jadi per­masalahan per­napasan. Hal ini dikenal juga seba­gai “Sin­drom Aspirasi Mekonium”.
      ·         Beberapa sebab lain bisa ber­upa obat-obatan yang dikon­sumsi ibu sebelum per­salinan, dan bayi preterm (prematur).

      Karena nilai APGAR ren­dah ber­makna kesulitan bayi baru lahir ber­adap­tasi pada ling­kungan barunya, sering kali penilaian yang menun­jukkan skor APGAR ren­dah ber­kepan­jangan dihubungkan dengan kemung­kinan pening­katan kom­plikasi neurologis. Beberapa penelitian men­duga ada keter­kaitan skor APGAR ren­dah dengan kon­disi psikologis dan kog­nitif anak di masa kemudian, seperti pening­katan risiko ADHD atau penurunan kemam­puan kognitif.

      C.    Faktor Kegagalan Pernafasan Pada Bayi
      Pengolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari:
      1.      Faktor Ibu
      a.       Hipoksia ibu
      Terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anestesia dalam. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin.
      b.      Gangguan aliran darah uterus
      Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada :
      ·         Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat.
      ·         Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
      ·         Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
      2.      Faktor plasenta
      Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta.
      Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta dan lain-lain.
      3.      Faktor fetus
      Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
      4.      Faktor Neonatus
      Depresi pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena :
      1.      Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.
      2.      Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah intrakranial.
      Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.

      BAB III
      PENUTUP

      A.    Kesimpulan
      Sesaat setelah bayi lahir, penolong persalinan biasanya langsung melakukan penilaian terhadap bayi tersebut. Perangkat yang digunakan untuk menilai dinamakan Skor Apgar. Apgar score adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran.
      Skor Apgar hanyalah sebuah tes yang didisain untuk menilai keadaan bayi secara menyeluruh, sehingga dapat ditentukan secara cepat apakah seorang bayi memerlukan tindakan medis segera. Skor Apgar bukanlah patokan untuk memperkirakan kesehatan dan kecerdasan bayi dimasa yang akan datang.

      B.     Saran
      Dalam pembuatan makalah ini, penulis sadar bahwa begitu banyak kekurangan, karena itu kritikan dari pembaca sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah ini.
      Penulis juga berharap, kiranya makalah ini dapat “bermanfaat” baik bagi penulis maupun pembaca terutama memahami lebih banyak tentang Kohor Bayi.


      DAFTAR PUSTAKA






      http://smasim-09.blogspot.com/2010/05/virginia-apgar.html
      READ MORE - Apgar Skor (Kohor Bayi)

      Rabu, 10 Maret 2010

      Menilik Skor Apgar

      Menilik Skor Apgar
      Penilaian APGAR adalah sebuah tes cepat yang dilakukan pada menit per­tama dan kelima pasca kelahiran, skor pada menit ke-1 mem­beri gam­baran seberapa baik bayi melakukan toleransi ter­hadap proses kelahiran. Menit ke-5, skor mem­berikan penilaian akan bagaimana bayi ber­adap­tasi dengan ling­kungan yang baru. Skor ber­nilai antara 1 sam­pai dengan 10, dengan nilai 10 mem­berikan gam­baran bayi yang paling sehat.

      Tes APGAR bisa dilakukan oleh dok­ter, bidan atau per­awat yang menolong per­salinan. Di mana ada lima kom­ponen yang diper­hatikan: upaya ber­napas, denyut nadi, tonus otot, refleks dan warna kulit.

      Ber­ikut adalah peta pola kerja penilaian skor APGAR yang juga menun­jukkan bahwa APGAR merupakan sebuah akronim yang ter­diri dari Appearance, Pulse, Grimance, Activity dan Reaction yang merupakan komponen-komponen yang diper­hatikan dalam penilaian skor APGAR.


      APGAR


      Tes ini merupakan alat untuk menen­tukan apakah bayi baru lahir memer­lukan per­hatian medis guna mem­batu stabilisasi fungsi jan­tung dan per­napasan, ataukah bayi cukup sehat tanpa perlu ban­tuan tersebut.

      Nilai 8 atau 9 menan­dakan bayi baru lahir dalam kon­disi yang baik. Nilai 10 jarang ada, karena ham­pir semua bayi kehilangan 1 poin oleh sebab tangan atau kaki yang ber­warna biru/pucat, yang merupakan sesuatu yang wajar pada masa tran­sisi kelahiran pasca kelahiran.

      Jika skor yang dihasilkan di bawah 8, hal ter­sebut meng­in­dikasikan bayi memer­lukan ban­tuan. Skor di bawah 5 menan­dakan bayi baru lahir memer­lukan ban­tuan sesegar mung­kin guna ber­adap­tasi dengan ling­kungan barunya. Jika Anda per­nah menon­ton film Bollywood “Three Idiots”, maka dalam skenario di mana mereka menolong per­salinan, bayi yang baru lahir ter­sebut menun­jukkan nilai APGAR yang ren­dah. Namun, bayi yang memiliki skor APGAR ren­dah di menit ke-1 dan nilai nor­mal pada menit ke-5 biasanya tidak memiliki masalah-masalah jangka panjang.

      Jika skor APGAR ren­dah dan intervensi medis seperti resusitasi meng­alami kesulitan, maka skor APGAR dipan­tau kem­bali umum­nya pada menit ke-10, 15 dan 20.
      Tes APGAR ini hanya menilai apa yang bisa dilihat dan dirasakan oleh penolong per­salinan, sehingga tidak memiliki risiko pada bayi baru lahir – tes ini dengan kata lain adalah tes yang aman bagi bayi.

      Ada beberapa hal yang diduga men­jadi penyebab nilai APGAR yang ren­dah pada bayi baru lahir, di antaranya adalah:
      • Per­salinan yang ter­lalu cepat. Hipok­sia (kekurangan oksigen) dapat ter­jadi pada per­salinan yang ter­lalu cepat oleh karena kon­traksi yang ter­lalu kuat atau trauma pada kepala bayi.
      • Ter­jerat tali pusat. Umum dikenal dengan “nuchal cord”, di mana tali pusat (plasenta/ari-ari) melilit pada leher janin (baik sekali waktu atau beberapa kali) dan meng­ganggu aliran darah, maka hipok­sia bisa ter­jadi karena lilitan ini.
      • Prolaps tali pusat. Kon­disi yang ter­jadi ketika tali pusat men­dahului fetus keluar dari rahim. Kon­disi ini adalah kedarutan obs­tetri yang mem­bahayakan kehidupan janin. Namun prolaps tali pusat adalah kasus yang jarang. Ketika fetus juga akan ikut lahir, sering kali menekan tali pusat dan menim­bulkan hipoksia.
      • Plasenta previa (placenta preavia). Merupakan kon­disi kelainan obs­tretri di mana tali pusat ter­hubung pada din­ding rahim yang letak­nya dekat atau menutup leher rahim. Hal ini mening­katkan risiko per­darahan antepar­tum (vaginal), yang ber­ujung juga pada hipok­sia bagi janin.
      • Aspirasi mekonium. Jika mekonium di ada dalam paru-paru fetus, maka bisa ter­jadi per­masalahan per­napasan. Hal ini dikenal juga seba­gai “Sin­drom Aspirasi Mekonium”.
      • Beberapa sebab lain bisa ber­upa obat-obatan yang dikon­sumsi ibu sebelum per­salinan, dan bayi preterm (prematur).
      Karena nilai APGAR ren­dah ber­makna kesulitan bayi baru lahir ber­adap­tasi pada ling­kungan barunya, sering kali penilaian yang menun­jukkan skor APGAR ren­dah ber­kepan­jangan dihubungkan dengan kemung­kinan pening­katan kom­plikasi neurologis. Beberapa penelitian men­duga ada keter­kaitan skor APGAR ren­dah dengan kon­disi psikologis dan kog­nitif anak di masa kemudian, seperti pening­katan risiko ADHD atau penurunan kemam­puan kognitif.


      www.smasim_09webs.com
      READ MORE - Menilik Skor Apgar