Pages

Senin, 09 Februari 2009

Konsep Pemikiran Pendidikan Islam Di Indonesia


KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
DI INDONESIA MENURUT
PROF. DR. H. ABDUL MALIK FADJAR, MSC



KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa  yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya  sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan.

Makalah ini disusun untuk diajukan sebagai  makalah mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam dengan judul Konsep Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia Menurut Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, MSc”.

Terima kasih disampaikan kepada dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya makalah ini.

Kami menyadari bahwa di dalam makalah kami masih ada berbagai kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dan berbagai pihak akan kami terima dengan senang hati.



Penyusun                

 



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I      PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
BAB II    PEMBAHASAN
A.    Ruang Lingkup
B.     Konsep Pendidikan Islam
C.     Peran Pranata Pendidikan
D.    Biografi dan Karya Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar
BAB III   PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.      Saran
DAFTAR PUSTAKA






BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
     Dunia pendidikan di Indonesia memang menghadapi problematika yang sangat kompleks dan menuntut pembenahan yang seksama. Namun demikian, memvonis bahwa pendidikan di tanah air gagal total, tidaklah adil. Apa lagi, vonis kegagalan pendidikan tersebut dengan membandingkan semisal Singapura, Malaysia, Vietnam, atau negara-negara lainnya.

Banyak usaha telah dilakukan oleh para pemikir, praktisi dan pelaku pendidikan untuk mengkonstruksinya sebagai amunisi memasuki masa depan. Dalam konteks ini kiranya nama Abd. Malik Fadjar bisa dinyatakan sebagai salah seorang pakar dan sekaligus praktisi pendidikan di negeri ini, gagasan-gagasannya dan kebijakan-kebijakannya selalu mendapat respon positif bagi kemajuan pendidikan. Intelektualitas dan kapabilitasnya dibidang pendidikan bisa dilihat dari sejarah hidup yang diabdikannya pada lembaga-lembaga pendidikan yang dipimpinnya sehingga  mencapai  kualifikasi  academic excellence dan  kompetitif  advantage di  era   global (Abd. Malik Fadjar, 2005: 3).

Abdul Malik Fadjar yang biasa dipangggil Malik tumbuh di bumi keluarga terdidik (educated village family). Ayahnya adalah seorang guru agama. Melalui ayahnya, Malik banyak belajar ilmu  agama dan keagamaan. Salah satu ajaran penting   yang ditransmisikan kepada semua anak-anaknya adalah percaya diri dan keberanian diri. Hal ini karena ayah Malik dikenal sebagai pribadi yang ”liberal”, dalam arti lebih banyak menampilkan “tutwuri” yang   mendorong lahirnya sikap percaya diri dan keberanian diri yang semuanya berpangkal dari iman (Abd. Malik fadjar, 2005: 5).

Pemikiran beliau yang prinsip tentang pendidikan Islam yaitu mengenai bagaimana mengenalkan pendidikan yang betul-betul mampu menggambarkan integrasi keilmuan. Yaitu melakukan dekonstruksi terhadap realitas keilmuan yang bersifat dualisme-dikotomis. Dengan pertimbangan di atas maka penulis penulisan makalah ini yang diberi judul:  Konsep Pendidikan Islam Menurut Abdul Malik Fajar.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka penulis dapat  merumuskan masalah tersebut menjadi: Bagaimana konsep pendidikan Islam  menurut Abd. Malik Fadjar?

C.     Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran Abd. Malik Fadjar tentang konsep pendidikan Islam  
2.      Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
a.       Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu  pengetahuan, khususnya dalam pendidikan Islam.
b.      Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan bagi almamater pada khususnya sebagai sumbangan akademis.







BAB II

PEMBAHASAN


A.     Ruang Lingkup
Pakar pendidikan yang juga Rektor Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Prof. Dr. Numan Soemantri mengatakan, "Indonesia memiliki banyak persoalan pendidikan, namun Indonesia mempunyai problematika pendidikan yang berbeda dengan negara-negara lain, baik dilihat dari sejarah lahirnya bangsa ini, luasnya wilayah, dan besarnya jumlah penduduk. Maka memvonis kegagalan pendidikan di Indonesia dengan parameter negara lain tidak adil (Sutomo dalam Pikiran Rakyat: 25 November 2005).

Praktek penyelenggaraan pendidikan Islam selama ini sering mengalami benturan antara tradisional dan modern dan kelemahan posisioning kelembagaan pendidikan Islam itu sendiri, misalnya konsep pendidikan Islam yang memposisikan Islam dan ilmu pengetahuan secara dikotomis, bahkan lebih naif lagi jika penyelenggaraan pendidikan Islam dibatasi hanya pada organisasi masyarakat Islam semata. Selanjutnya mengutip pendapat Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, MSc dalam buku “Membuka Jendela Pendidikan” mengatakan “Keberadaan sistem pendidikan Islam seharusnya ditempatkan dalam kerangka tujuan sosiologis, artinya bagaimana menempatkan sistem pendidikan Islam dalam alokasi posisional yang setara dengan sistem sekolah lainnya. Kerangka posisional tersebut mengimplementasikan adanya mandat dari masyarakat yang harus dijalankan oleh sistem pendidikan Islam dengan menyalurkan anggota-anggotanya ke dalam posisi-posisi tertentu. Samuel Bowless menyarankan bagaimana sistem pendidikan Islam mampu mencari struktur status dari generasi ke generasi, daripada membantu menimbulkan mobilitas antar kelas. Mekanisme alokasi posisional juga menyarankan suatu sistem pendidikan Islam memiliki kemampuan yang besar dalam menyerahkan lulusannya sesuai selera masyarakat secara luas. Juga menyarankan adanya mobilitas yang kuat dari masyarakat untuk mengakhiri jenjang pendidikan yang setinggi-tingginya, dan sistem pendidikan Islam yang berkualitas.


B.     Konsep Pendidikan Islam
Konsep merupakan suatu kenyataan empiris yang diabstraksikan, atau kesan mental, suatau pemikiran, ide, suatu gagasan yang mempunyai derajat kekongkretan atau abstraksi yang digunakan pikiran abstrak, sedang menurut Kamus Bahasa Indonesia (1995: 520) adalah gambaran mental dari obyek, proses ataupun yang di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain.

Sedangkan Konsep Pemikiran Islam yaitu suatu ide atau gagasan untuk menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur  pribadinya sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. Dengan cara menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji.

Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar mengajar  berlangsung secara menarik dan menantang, sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
     Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Fakta-fakta dilapangan ditemukan sistem pengelolaan anak didik masih menggunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya menyampaikan hasilnya. Dengan adanya kreativitas yang diimplementasikan dalam sistem pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu berubah.

Di zaman yang sudah modern ini, pendidikan juga masih dianggap sebagai kekuatan utama dalam komunitas sosial untuk mengimbangi laju berkembangnya ilmu dan teknologi. Persepsi masyarakat ini kiranya telah mampu memobilisasi kaum cerdik cendikia untuk selalu merespon secara stimulan terhadap perkembangan dan sistem pendidikan berikut unsur-unsur yang terkait yang berpotensi positif bagi keberhasilan pendidikan (Abd. Malik Fadjar, 2005: v).

Secara sosiologis pendidikan selain memberikan amunisi memasuki masa depan, ia juga memiliki hubungan dialektikal dengan tranformasi sosial masyarakat. Transformasi pendidikan selalu merupakan hasil dari trasformasi sosial masyrakat, dan begitupun sebaliknya. Berbagai pola dan corak system pendidikan menggambarkan corak dari tradisi dan budaya sosial masyarakat yang ada. Maka hal yang paling mendasar yang perlu diperhatikan adalah  suatu sistem pendidikan dibangun guna melaksanakan “amanah masyarakat”untuk  menyalurkan angota-anggotanya ke posisi-posisi tertentu. Artinya, suatu sistem pendidikan bagaimanapun harus mampu menjadikan dirinya sebagai mekanisme alokasi posisional bagi civitas akademika untuk memasuki masa depannya.


C.     Peran Pranata Pendidikan
Konsep pemikiran Prof. Dr.Abd. Malik Fajar tentang peran pranata kependidikan adalah bahwa, pendidikan sebagai praktisi pembangunan bangsa: telaah atas peranan pranata kependidikan melalui pranata pendidikan, berbagai kegiatan pendidikan menjadi kekuatan riil bagi proses pembangunan bangsa.

Pemikiran Pendidikan, Abd. Malik Fadjar mengemukakan tentang pemikiran-pemikirannya mengenai dunia kependidikan Indonesia. Menurutnya pendidikan nasional harus mempunyai visi dan misi.
Visi misi itu bertumpu pada kenyataan:
-          perjalanan kehidupan berbangsa di Negara Indonesia
-          suasana yang diliputi konflik yang terjadi
-          pembenahan dikala krisis
-          di antara aneka persoalan bangsa
-          peradaban dan kebudayaan
Singkatnya pendidikan nasional mengemban visi dan misi integrasi nasional, martabat kemanusiaan, spiritual dan moralitas bangsa, kecerdasan dan kecakapan hidup.

Selain itu Abd. Malik Fadjar berpendapat bahwa menejemen pendidikan harus di ganti dari Manajemen Berbasis Kurikulum menjadi Menejemen berbasis sekolah. MBS sebagai realisasi dari desentralisasi pendidikan. Sedikitnya ada empat bentuk yang perlu di identifikasi, anrat lain:
-          dekonsentrasi, yaitu pelimpahan sebagian kewenangan atau tanggung jawab admininstratif ke tingkat yang lebih rendah
-          delegasi, yaitu pelimpahan atau pemindahan tanggung jawab manajerial dan fungsional ke organiasasi di luar struktur birokrasi
-          devolusi, yaitu penguatan dan penciptaan unit pemerintah di daerah
-          privatisasi atau swatanisasi, yaitu pemberian wewenang secara penuh kepada swasta untuk merencanakan, menjalankan dan mengevaluasi seluruh system yang di kontruksi.

MBS ditawarkan sebagai salah satu alternatife jawaban pemberian otonomi daerah di bidang pendidikan, mengingat prinsip dan kecenderungan yang masih mengembalikan pengelolaan manajemen sekolah kepada pihak-pihak yang dianggap paling mengetahui kebutuhan sekolah. Oleh karena itu jika kita semua sedang gencar berbicara tenteng reformasi pendidikan, maka dalam konteks MBS tema sentral yang diangkat adalah isu desentralisasi. Desentralisasi dalam pengertian sebagai pengalihan tanggung jawab pemerintah pusat ke pemerintah daerah dalam hal perencanaan, manajemen, penggalian dana dan alokasi sumber daya.


D.    Biografi dan Karya Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar
1.      Biografi dan Riwayat Pendidikan Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar.
Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar memiliki nama lengkap Abdul Malik Fadjar yang dilahirkan di Yogyakarta tanggal 22 Februari 1939. Ia adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara dari pasangan Fadjar Martodiharjo dan Hj. Salamah Fadjar.
Abdul Malik Fajar memiliki riwayat pendidikan antara lain;
·         Sekolah Rakyat di Magelang (selama 6 tahun)
·         Pendidikan Guru Agama Pertama di Magelang (selama 4 tahun)
·         Pendidikan Guru Agama Atas di Yogyakarta (2 tahun)

Pada tahun 1963 ia meneruskan pendidikan ke jenjang sarjana muda di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, Malang. Kemudian dilanjutkan lagi hingga meraih gelar sarjana tahun 1972. Beliau adalah lulusan tahun 1972 dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Malang. Begitu lulus beliau mengajar di almamaternya dan menjadi Sekretaris Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel hingga tahun 1979.

Setelah itu, Abdul Malik Fadjar mendapat kesempatan melanjutkan studi di Department of Educational Research, Florida State University, Amerika Serikat. Disana beliau meraih gelar Master of Science tahun 1981. Kemudian beliau dipercaya untuk menjabat sebagai Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (Unmuh Malang), tahun 1983-1984. Lalu menjabat Rektor di dua universitas yakni; Unmuh Malang dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hingga tahun 2000.

Pada tahun 2000, beliau diangkat menjadi guru besar di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

2.      Riwayat Pekerjaan A. Malik Fajar
Abdul Malik Fadjar memulai karirnya sebagai guru agama di SD Taliwang (1959-1960), guru SMI, guru agama pada SGBN Sumbawa Besar dan Guru Agama pda SMPN Sumbawa besar dan kepala SMEP. Beliau langsung menjadi guru selepas lulus dari Pendidikan Guru Agama Atas (PGAA) Negeri Yogyakarta tahun 1959. Setelah menjadi guru agama selama empat tahun. Pada 1963 Abdul Malik fajar kembali di Jawa karena panggilan tugas belajar, yaitu Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Malang. Begitu lulus dari IAIN Sunan Ampel Malang beliau mengajar di almamaternya dan menjadi Sekretaris Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel hingga tahun 1979.
Setelah lulus dari studi di Department of Educational Research, Florida State University, Amerika Serikat. Disana ia meraih gelar Master of Science tahun 1981. Kemudian ia dipercaya untuk menjabat sebagai Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (Unmuh Malang), tahun 1983-1984. Lalu menjabat Rektor di dua universitas yakni Unmuh Malang dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hingga tahun 2000.

Pada tahun 2000, ia diangkat menjadi guru besar di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Pada masa kepemimpinan Presiden B.J. Habibie beliau diangkat menjadi Menteri Agama dan pada era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri beliau diangkat menjadi Menteri Pendidikan Nasional.

3.      Karya-karya Abdul Malik Fajar
Karya-karya yang dihasilkan oleh Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar, MSc antara lain:
·         Kuliah Agama Islam (Surabaya: Al-Ikhlas, 1981).
·         Kepemimpinan Pendidikan (Malang: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang,1983)
·         Dunia Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan (Malang:UMM Press,1989)
·         Dasar-dasar Administrasi Pendidikan (Yogyakarta: Aditya Media, 1993)
·         ReorientasiWawasan Pendidikan dalam Muhammadiyah dan NU (Malang: UMM Press,1993)
·         Visi Pembaharuan Pendidikan Islam (Jakarta: LP3NI, 1998)
·         Madrasah Tantangan Modernitas (Bandung: Mizan, 1998)
·         Reorientasi Pendidikan Islam (Jakarta: FadjarDunia, 1999)
·         Pendidikan, Agama, Kebudayaan dan Perdamaian (Malang: UIN Malang Perss, 2004)
·         Sintesa Antara Perguruan Tinggi denagn Pesantren (Malang: UIN Malang Press, 2004)
·         Berbagai artikel dan makalah yang dimuat berbagai media, baik nasional maupun internasional.







BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
Prof. Dr.Abd. Malik fajar, MSc sebagai pemerhati, praktisi dan pakar pendidikan adalah sebagai tokoh yang memiliki keunikan sebab beliau merupakan sarjana lulusan dari pendidikan yang bernuansa agama yang selama ini dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang di Indonesia. Namun beliau mampu menepis anggapan miring dan diskriminatif terhadap produk pendidikan Islam terutama yang dikelola oleh Departemen Agama RI, buktinya beliau sempat dinobatkan menjadi Menteri Pendidikan Nasional di Era Megawati Sukarno Putri. Kemudian gagasan dan pemikiran dibidang pendidikan yang beliau kemukakan didalam buku- buku karya beliau sangat mendapat respon positif dari berbagai pihak.

B.       Saran  
Selama ini peranan pranata kependidikan masih tampak bergerak sendiri-sendiri dan belum membentuk sinergi positif yang mendukung proses pembangunan bangsa. Masing-masing lebih banyak melihat dunianya sendiri dan kurang membuka dan saling memberi akses. Sehingga, makna pendidikan mengalami penyempitan dan reduksi bahkan terkurung dalam system sekolah, madrasah, dan perguruan  tinggi, karena itu penulis sarankan agar pemerintah serius menanggapi persoalan pendidikan.



www.smasim_09webs.com

0 komentar:

Poskan Komentar