Pages

Minggu, 05 Juni 2011

Asfiksia Neonaturum

Asfiksia Neonaturum
Asfiksia
Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan mungkin meningkatkan C02 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut.

Atas dasar pengalaman klinis, Asfikia Neonaiorum dapat dibagi dalam :
  1. "Vigorous baby'' skor apgar 7-10, dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerkikan istimewa.
  2. "Mild-moderate asphyxia" (asfiksia sedang) skor apgar 4-6 pada pemeriksaan fisis akan terlihat frekuensi jantung lebih dari lOOx/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refick iritabilitas tidak ada
  3. Asfiksia berat: skor apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisis ditemukan' frekuensi jantung kurang dari l00x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada 

Asfiksia berat dengan henti jantung yaitu keadaan :
  1. Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelu lahir lengkap.
  2. Bunyi jantung bayi menghilang post partum.

II. ETIOLOGI
Asfiksia janin atau neonatus akan terjadi jika terdapat gangguan perlukaran gas atau pengangkutang O2 dari ibu kejanin. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. Hampir sehagian hes;ir asfiksia bayi baru lahir meriip;ik;in kcltiniutan asfiksia janin, karena itu penilaian janin selama kehamilan dan persalinan. memegang peran penting untuk keselamatan bayi atau kelangsungan hidup yang sempurna tanpa gejala sisa.




Pengolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari:
1. Faktor Ibu
a. Hipoksia ibu
Terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anestesia dalam. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin.
b. Gangguan aliran darah uterus
Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada :
-Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat.
- Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
- Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
2. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta.
Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta dan lain-lain.
3. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
4. Faktor Neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena :
1. Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.
2. Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah intrakranial.
Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.

III. PATOFISIOLOGI
Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar lerjadi "Primarg gasping" yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan.

Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian.

Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (Secondary apnea).

Pada tingkat ini ditemukan bradikardi dan penurunan tekanan darah. Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan pemeriksaan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3 berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen tubuh , sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkuang.asam organik terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan
tumbuhnya asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan sel otak yang terjadi menimbuikan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.

IV. MAN1FESTASI KLINIS
Asfiksia biasanya merupakan akibat dari hipoksi janin yang menimbulkan tanda:
  • DJJ lebih dari 1OOx/mnt/kurang dari lOOx/menit tidak teratur
  • Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala
  • Apnea
  • Pucat '
  • sianosis
  • penurunan terhadap stimulus.

V. PENATALAKSANAAN KLINIS
a. Tindakan Umum
- Bersihkan jalan nafas : kepala bayi dileakkan lebih rendah agar lendir mudah mengalir, bila perlu digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lendir dari saluran nafas ayang lebih dalam.
- Rangsang reflek pernafasan : dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles.
- Mempertahankan suhu tubuh.
b. Tindakan khusus
- Asfiksia berat
Berikan O2 dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal dapat dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya dengan O2. Tekanan O2 yang diberikan tidak 30 cm H 20. Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan message jantung dengan ibu jari yang menekan pertengahan sternum 80 -100
x/menit.
- Asfiksia sedang/ringan
Pasang relkiek pernafasan (hisap lendir, rangsang nyeri) selama 30-60 detik. Bila gagal lakukan pernafasan kodok (Frog breathing) 1-2 menit yaitu : kepala bayi ektensi maksimal beri Oz 1-2 1/mnt melalui kateter dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakkan dagu ke atas-bawah secara teratur 20x/menit
- Penghisapan cairan lambung untuk mencegah regurgitasi

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
- Pemeriksaan darah Kadar As. Laktat. kadar bilirubin, kadar PaO2, PH
- Pemeriksaan fungsi paru
- Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler
- Gambaran patologi

READ MORE - Asfiksia Neonaturum

Jumat, 15 April 2011

Kalender 2015 Lengkap

Kalender 2015 Lengkap
Free download kalender 2015, Kalender indonesia lengkap dengan hari libur nasinal dan cuti bersama. silahkan download gratis kalender 2015 ini dibawah ini :


Kalender 2015 ini dilengkapi kalender Hijriyah Qomariyah, Hijriyah Syamsiah, Pranoto Mongso, Kalender Jawa, Neptu, Jadwal Sholat, Info Gerhana, Prediksi Tinggi Air Laut, Hari Libur Nasional, Cuti Bersama sesuai dengan SKB 3 Menteri serta bentuk hilal saat awal bulan.


Download Kalender 2015 Lengkap [klik] dibawah ini :




www.smasim_09webs.com
READ MORE - Kalender 2015 Lengkap

Kalender 2016 Lengkap

Kalender 2016 Lengkap
Free download kalender 2016, Kalender indonesia lengkap dengan hari libur nasional dan cuti bersama. silahkan download gratis kalender 2016 ini dibawah ini :



Kalender 2016 ini dilengkapi kalender Hijriyah Qomariyah, Hijriyah Syamsiah, Pranoto Mongso, Kalender Jawa, Neptu, Jadwal Sholat, Info Gerhana, Prediksi Tinggi Air Laut, Hari Libur Nasional, Cuti Bersama sesuai dengan SKB 3 Menteri serta bentuk hilal saat awal bulan.


Download Kalender 2016 Lengkap [klik] dibawah ini :



www.smasim_09webs.com
READ MORE - Kalender 2016 Lengkap

Rabu, 06 April 2011

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bahasa Indonesia


PELATIHAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
BAGI GURU BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH ATAS
DI WILAYAH KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH

TRAINING ON CLASSROOM ACTION RESEARCH
FOR INDONESIAN LANGUAGE TEACHERS  OF SENIOR HIGH SCHOOL
 IN PURBALINGGA JAWA TENGAH

Joko Santoso, dkk.



ABSTRAK


Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan (i) pengetahuan mengenai penelitian tindakan kelas dan (ii) pelatihan penyusunan proposal sebagai rencana perbaikan kualitas pembelajaran. Untuk mencapai tujuan itu, metode yang digunakan ialah pelatihan dan lokakarya. Di samping itu, metode pendidikan orang dewasa (andragogi) diterapkan dengan memanfaatkan model pendekatan proses. Metode ini dipilih agar peserta bisa mengalami setiap langkah proses penyusunan proposal penelitian tindakan kelas sesuai permasalahan pembelajaran yang dihadapinya dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Kegiatan ini diikuti oleh 23 guru bidang studi bahasa Indonesia. Peserta berhasil mewujudkan 5 draf proposal penelitian tindakan kelas yang disusun secara kelompok berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang mereka hadapi di sekolah. Semua proposal dapat diseminarkan dan diperbaiki berdasarkan saran, baik dari tim pengabdian masyarakat maupun dari sesama peserta. Sebagian besar peserta merasa puas terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Mereka merasa telah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan.

Kata kunci: pelatihan, penelitian tindakan kelas, guru bahasa Indonesia



ABSRACT


This program is aimed at giving (i) knowledge a bout classroom action research and (ii) training on writing a proposal as a plan to improve the quality of learning. To meet the goal, the method used was training and workshop. Besides, andragogy was a applied as a process approach model. This method was employed in order that the participant  experienced each process in unity a classroom action research proposal according to problems they faced in their school. This program was conducted based on the arranged schedule. This program was followed by 23 Indonesian teachers. The participant were successfully wrote 5 classroom action research proposals which were made in groups based on their needs and problems they faced. All proposals we presented on the seminar and we revised based on suggestions given by the team of community service and participant (audience). Most of the participants were satified with this program. They got knowledge and skill they needed.

Key word: training, classroom action research, Indonesian language teachers


PENDAHULUAN


Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, seorang guru diharapkan memiliki empat kompetensi yang memadai, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Dengan penguasaan keempat kompetensi itu diharapan para guru dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya secara profesional. Namun, kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar guru belum menampakkan keprofesionalannya dalam melaksanakan tugas dan kewajiban itu. Hal itu di antaranya disebabkan oleh lemahnya kompetensi pedagogik dan kompetensi preofesional yang dimilikinya. Sehubungan dengan hal itu dapat dikemukakan ilustrasi sebagai berikut.

Kehidupan masyarakat di era globalisasi informasi sekarang ini menuntut kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, baik secara reseptif maupun secara produktif, baik menerima maupun menuangkan ide serta pikirannya secara cepat dan tepat, baik secara lisan maupun tertulis. Dalam kehidupan masyarakat seperti ini, komunikasi merupakan salah satu kunci kehidupan yang harus dikuasai karena dengan penguasaan kemampuan berkomunikasi ini orang akan lebih mudah dalam menerima dan mengirim berbagai informasi. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik seperti itu, diperlukan penguasaan penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi.

Dalam kegiatan berbahasa, ada empat keterampilan berbahasa yang memiliki hubungan erat, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Dari keempat keterampilan berbahasa tersebut, keterampilan berbicara dan menulis sering dianggap sebagai bentuk keterampilan berbahasa yang dianggap cukup sulit karena merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Keterampilan berbicara dan menulis juga merupakan suatu kemampuan yang diperoleh melalui proses berlatih. Artinya, keterampilan itu tidak datang  dengan sendirinya atau dikuasai dengan serta-merta, tetapi melalui dan memerlukan latihan.

Dalam kehidupan moderen, keterampilan berbahasa seperti itu sangat diperlukan. Namun dalam kenyataannya, pembelajaran keterampilan berbahasa kurang disenangi atau diperhatikan siswa karena para guru cenderung lebih memfokuskan diri pada penyampaian pembelajaran tentang bahasa daripada pembelajaran berbahasa. Kenyataan seperti ini tidak seluruhnya bersumber pada faktor siswa, namun faktor guru, terutama dalam hal cara penyampaian materi pembelajaran juga perlu mendapat perhatian serius.

Sebagai contoh kasus dapat dikemukakan temuan Alwasilah (dalam Sumarwati, 1997:5) dalam mengamati berbagai naskah yang masuk dalam sebuah lomba penulisan karya ilmiah. Berdasarkan naskah yang masuk pada panitia lomba karya ilmiah maupun lomba yang lain, dapat dikatakan bahwa para pelajar, bahkan para mahasiswa, belum mampu membuat laporan penelitian yang berkualitas. Hal ini disebabkan oleh belum memadainya kemampuan berbahasa mereka, khususnya bahasa tulis. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan adanya reorientasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia dari SD sampai perguruan tinggi.

Kenyataan seperti yang dikemukkan oleh Alawsilah di atas menunjukkan bahwa pembelajaran menulis di sekolah perlu diberikan mulai sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas karena keterampilan itu sangat diperlukan dalam kehidupan. Sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang kompleks, keterampilan ini perlu diajarkan dan dilatihkan secara terus-menerus. Keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang cukup rumit karena kemampuan ini mencakup kemampuan-kemampuan lain yang lebih khusus dan perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Kemampuan khusus itu antara lain menyangkut pemakaian ejaan, tanda baca, kosakata, struktur kalimat, dan penyusunan atau pengembangan paragraf (Akhadiah, 1988). Setiap siswa harus dibekali dengan kemam­puan untuk menyampaikan ide dan pikirannya secara tertulis (menulis) kepada pihak lain. Setiap siswa harus mampu menuangkan sebuah ide menjadi bentuk tertulis secara logis, jelas, ringkas, dan sesuai dengan kaidah tata bahasa, dari bentuk yang paling sederhana sampai bentuk yang kompleks. Kemampuan menulis kelak diperlukan dalam segala macam karir dan pekerjaan (Ismail, 1997).

Syafe'i (1988) menyatakan bahwa seseorang yang berbakat menulis atau tidak berbakat menulis sebenarnya sama-sama memiliki kesempatan untuk menjadi penulis. Kesempatan dalam belajar menulis lebih banyak dalam menentukan keberhasilannya menjadi seorang penulis. Namun demikian, walaupun pembelajaran menulis (mengarang) telah disa­dari sebagai bagian yang sangat esensial dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, dalam kenyataannya pembelajaran menulis kurang mendapatkan perhatian yang sewajarnya. Pelly & Efendi (1992) mengatakan bahwa pelajaran membaca dan menulis yang dahulu merupakan pelajaran dan latihan pokok saat ini kurang mendapatkan perhatian, baik dari para siswa maupun para guru. Pembelajaran menulis selama ini tidak ditangani sebagaimana mestinya. Para siswa dan guru biasanya lebih memfokuskan kegiatan pelajaran pada materi-materi teoretik yang mengarah pada keberhasilan siswa dalam pencapaian nilai ujian nasional. Hal ini mengakibatkan keterampilan menulis para siswa tidak berkembang. Dengan tegas Badudu (1985) berpendapat bahwa rendahnya mutu kemampuan menulis siswa disebabkan oleh kenyataan bahwa pengajaran mengarang dianaktirikan.

Berdasarkan pengamatan sehari-hari terhadap kompetensi para siswa, diperoleh informasi bahwa keterampilan para siswa dalam menulis masih jauh dari yang diharapkan. Kondisi semacam itu tentu saja disebabkan oleh banyak faktor: (i) rendahnya minat, budaya, dan kompetensi baca para siswa, (ii) kurangnya pelatihan menulis bagi para siswa, (iii) tidak tersedianya contoh dan keteladanan dari para guru, (iv) rendahnya kualitas pembelajaran keterampilan berbahasa, khususnya dalam keterampilan menulis, dan (v) faktor-faktor lain yang cukup banyak. 

Sebagai contoh, pembelajaran menulis yang dilakukan di sekolah-sekolah selama ini,  pada umumnya, tidak didasarkan pada perencana yang matang. Biasanya tugas mengarang diberikan kepada siswa dengan memberikan judul, topik, atau tema tertentu. Tugas itu dapat dikerjakan di kelas atau di rumah. Jika tugas itu berkenaan dengan jenis karangan yang pendek biasanya siswa diminta untuk mengerjakannya di kelas. Apabila tugas itu berkenaan dengan jenis karangan yang panjang, biasanya siswa diberi waktu dua atau tiga hari. Hasil karangan siswa itu biasanya tidak diperiksa oleh guru. Seandainya diperiksa oleh guru pun tanpa didasarkan pada kaidah penilaian yang baku. Di samping itu, siswa tidak pernah mendapatkan umpan balik apa pun dari guru dan bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk mendiskusikan kekurangan dan kelebihannya. Kesempatan untuk kerja kolaboratif antarteman, saling mengoreksi, mengedit, atau menyunting, tidak pernah diberikan oleh guru. 

Di sisi lain, tugas mengarang pada umumnya sangat jarang diberikan kepada siswa. Dalam satu catur wulan atau semester siswa mendapat tugas mengarang hanya dua atau tiga kali. Hal itu tentu saja kurang memadai atau tidak sesuai dengan harapan yang tertuang dalam kurikulum yang tengah dimulai pemberlakuannya. 

Ilustrasi di atas merupakan salah satu contoh kasus pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah. Berdasarkan ilustrasi di atas, pembelajaran di sekolah sebaiknya segera mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini diupayakan adanya suatu tindakan nyata melalui pelatihan agar para guru memiliki kompetensi yang memadai dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran. Dengan kata lain, para guru akan mendapatkan langkah dan format yang tepat dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa sesuai mata pelajaran yang diampunya. 

Untuk itu, salah satu langkah yang harus diambil oleh para guru ialah melakukan penelitian secara intensif. Penelitian itu bukan dalam kerangka pengembangan ilmu melainkan terutama dalam pengembangan dan atau peningkatan kualitas pembelajarannya, yang ujung-ujungnya ialah untuk pengembangan kepribadian dan atau kompetensi siswa. Salah satu bentuk penelitian yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran itu ialah penelitian tindakan kelas. Namun demikian, sampai saat ini kebiasaan melakukan penelitian tindakan kelas dalam rangka perbaikan pembelajaran itu belum biasa dilakukan oleh para guru. Hal itu bukan disebabkan oleh rendahnya komitmen guru dalam melakukan perbaikan pembelajaran, tetapi oleh rendahnya kompetensi dalam melaksanakan berbagai bentuk penelitian, khususnya penelitian tindakan kelas. Jadi, yang menjadi akar permasalahan ialah para guru tidak memiliki kompetensi dan pengalaman yang cukup dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas.

Kondisi seperti di atas dialami oleh sebagian besar guru dan sekolah di Indonesia. Demikian juga para guru dan sekolah-sekolah di wilayah Kabupaten Purbalingga. Hal itu ditengarai oleh adanya kegelisahan Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga mengenai kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah di wilayah itu. Di samping itu, juga ditengarai oleh keinginan Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga agar Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta dapat mengalokasikan salah satu kegiatannya ke wilayah Kabupaten Purbalingga. Secara khusus Dinas Kabupaten Purbalingga menginginkan agar para guru dilatih dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas. 

Dalam menanggapi kegelisahan dan keinginan di atas, Tim Pengabdian kepada Mayarakat dari Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Yogyakarta, berkeinginan untuk mengadakan pengabdian kepada masyarakat di wilayah Dinas Kabupaten Purbalingga. Khususnya berkenaan dengan pelatihan pelaksanaan penelitian tindakan kelas bagi para guru.


Metode Pelaksanaan PPM
1.      Metode Kegiatan PPM
Untuk merealisasikan tujuan di atas, pendekatan atau metode yang dipilih ialah pelatihan dan lokakarya. Di samping itu, metode pendidikan orang dewasa (andragogi) juga diterapkan dengan memanfaatkan model pendekatan proses (Tomkins, 1994). Metode ini dipilih untuk memberi kesempatan kepada para guru agar bisa mengalami sendiri langkah demi langkah proses penyusunan proposal penelitian tindakan kelas sesuai dengan permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh para guru dalam proses belajar mengajar sehari-hari di sekolah masing-masing. Dalam pelatihan dan lokakarya ini, pada awalnya, para guru diberi kesempatan untuk mendengarkan ceramah dan melakukan tanya jawab tentang penelitian tindakan kelas dan penyusunan proposalnya. Langkah berikutnya,  mereka diberi kesempatan untuk menyusun sebuah proposal penelitian tindakan kelas berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang mereka hadapi sendiri-sediri di sekolah. Dengan demikian, para guru dapat menafsirkan, memaknai, dan menarik sendiri tindakan perbaikan pembelajaran yang diambilnya. Dengan kata lain, dengan metode pelatihan, para guru mendapatkan pengetahuan tentang penelitian tindaka kelas dan penyusunan proposalnya. Dengan metode lokakarya, para guru dapat melakukan praktik penyusunan proposal. Dengan demikian, mereka memperoleh hasil nyata yang dapat mereka praktikkan secara nyata di kelas.

2.      Langkah Kegiatan PPM
Sehubungan dengan hasil analisis situasi dan identifikasi permasalahan di atas, akar permasalahan yang dihadapi oleh khalayak sasaran ialah bahwa (i) para guru belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai penelitian tindakan kelas serta (ii) para guru belum memiliki keterampilan dan pengalaman dalam penyusunan proposal, melaksanakan tindakan nyata di kelas, dan menyusun laporan penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu, pemecahan permasalahan yang direncanakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui kegiatan pelatihan. Langkah kegiatan itu dapat dikemukakan sebagai berikut.

Pertama, tim melaksanakan observasi dan analisis situasi untuk menemukan akar permasalahan yang tengah dihadapi oleh khalayak sasaran.

Kedua, para guru diberi pengetahuan mengenai penelitian tindakan kelas, baik mengenai hakikat, karakteristik, maupun langkah-langkah pelaksanaannya. Melalui kegiatan ceramah, diskusi, dan simulasi studi kasus diharapkan para guru mendapatkan pemahaman yang cukup mengenai penelitian tindakan kelas.

Ketiga, para guru dibimbing untuk melakukan identifikasi permasalahan pembelajaran yang mereka hadapi di kelas masing-masing serta menemukan cara dan atau langkah perbaikan kualitas pembelajaran, baik secara teoretis maupun praktis.

Keempat, para guru dibimbing untuk menyusun proposal penelitian tindakan kelas berdasarkan permasalahan pembelajaran yang dihadapinya dan langkah perbaikan kualitas pembelajaran yang ditetapkannya.

Kelima, berdasarkan proposal yang telah disusunnya diharapkan para guru dapat melaksanakan penelitian di kelasnya masing-masing dan dapat pula menyusun laporan penelitiannya. Di harapkan pula para guru dapat mempublikasikan hasil penelitian masing-masing demi kepentingan perbaikan pendidikan secara lebih luas.

Perlu ditandaskan di sini bahwa langkah kegiatan kelima tersebut di atas bukan merupakan bagian kegiatan pengabdian masyarakat ini karena melalui dana yang tersedia Tim tidak dapat membiayai kegiatan penelitian itu. Kegiatan penelitian itu diharapkan dapat dibiayai oleh sekolah masing-masing atau oleh sponsor yang lain.

Kerangka pemecahan masalah di atas secara sederhana dapat dituangkan dalam langkah-langkah kegiatan dalam diagram berikut.



Langkah 1Langkah 2Langkah 3
1. Observasi1. Ceramah1. Identifikasi permasalahan pembelajaran
2. Analisis situasi2. Diskusi2. Penentuan cara perbaikan kualitas pembelajaran
3. Perumusan masalah3. Simulasi studi kasus3. Penyusunan proposal PTK
4. Penyusunan kerangka pemecahan masalah




Hasil Pelaksanaan PPM dan Pembahasan
1.      Hasil Kegiatan
Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilaksanakan di SMP Negeri II dan di SMA Karya Bakti Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini, yaitu 13 Juli 2009 dan 25 Juli 20098 diikuti oleh 25 guru bidang studi bahasa Indonesia.

Wujud kegiatan yang dilaksanakan dalam pengabdian masyarakat ini ialah ceramah, pelatihan, dan lokakarya. Wujud kegiatan ini dipilih untuk memberi kesempatan kepada para guru agar memiliki pengetahuan yang memadai mengenai penelitian tindakan kelas, mengidentifikasi permasalahan pembelajaran yang dihadapinya, dan bisa mengalami sendiri langkah demi langkah proses penyusunan proposal penelitian tindakan kelas sesuai dengan permasalahan pembelajaran yang dihadapi sehari-hari. Dalam kegiatan ini, pada awalnya guru diberi kesempatan untuk mendengarkan ceramah dan melakukan tanya jawab mengenai teori dan langkah penelitian tindakan kelas.

Pada akhir kegiatan ini diperoleh hasil sebagai berikut.
(1) Secara kuantitatif, kegiatan ini diikuti oleh 25 guru bidang studi di wilayah Kabupaten Purbalingga.
(2) Secara kuantitatif, kegiatan ini dapat menghasilkan 5 draf proposal penelitian tindakan kelas yang ditindaklanjuti dengan kegiatan seminar agar mendapatkan masukan dari berbagai pihak. Dalam menyusun proposal penelitian, peserta diberi kebebasan untuk memilih melalui kerja mandiri atau kelompok. Namun, pada umumnya, peserta memilih kerja kelompok.
(3) Secara kualitatif, para guru merasa telah mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan atau pengalaman yang sangat mereka butuhkan.


2.      Pembahasan
Pada kegiatan hari pertama, yaitu Senin, 13 Juli 2009,  melalui kegiatan ceramah dan tanya jawab, peserta mendapatkan informasi yang berkenaan dengan berbagai materi pelatihan, yaitu (i) penelitian tindakan kelas sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran, (ii) prosedur penelitian tindakan kelas, (iii) pengumpulan dan pengolahan data, dan (iv) penyusunan proposal dan laporan penelitian. Kegiatan pelatihan pada hari pertama itu, dari awal sampai akhir, dapat diikuti oleh 25 peserta. Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dalam penyusunan proposal penelitian tindakan kelas sangat mereka butuhkan dalam kehidupannya sebagai seorang guru.

Pada akhir kegiatan hari pertama para guru ditugasi untuk mengidentifikasi persoalan pembelajaran yang mereka alami sehari-hari dalam proses belajar mengajar di sekolah masing-masing. Selanjutnya, para guru juga diminta untuk merumuskan persoalan pembelajaran itu dalam bentuk judul penelitian tindakan kelas. Berdasarkan judul penelitian yang mereka rumuskan, para guru diminta untuk mengembangkannya menjadi proposal penelitian tindakan kelas. Dalam hal ini, para guru diberi waktu selama sembilan hari dan proposal tersebut dapat disusun baik secara kelompok. Hasilnya, diharapkan, dapat diseminarkan pada 25 Juli 2009.

Pada hari kedua, yaitu 25 Juli 2009. kegiatan ditindaklanjuti dengan seminar proposal penelitian. Melalui kegiatan itu berhasil diseminarkan sebanyak 5 proposal penelitian, yang disusun secara kelompok. Pada umumnya, proposal yang telah diseminarkan masih memiliki beberapa kekurangan, baik secara substansial maupun metodologis. Melalui seminar itu, para penyusun proposal mendapatkan masukan sehubungan dengan beberapa kekurangan yang ada pada proposal penelitiannya, baik dari sesama guru maupun dari tim pengabdian masyarakat. Langkah selanjutnya, para peserta ditugasi untuk memperbaiki proposal penelitiannya masing-masing, berdasarkan masukan yang mereka terima dalam seminar. Perbaikan proposal ini diberi waktu oleh tim selama tujuh hari.

Pada umumnya perbaikan yang mereka kerjakan membuahkan hasil yang cukup baik. Artinya, proposal dapat diperbaiki sesuai dengan saran dan atau masukan yang diberikan baik oleh tim pengabdian masyarakat maupun oleh sesama guru. Hal itu menunjukkan bahwa para guru tetap memiliki dedikasi dan komitmen yang tinggi dalam hal ini. Tim pengabdian masyarakat juga berharap proposal itu dapat ditindaklanjuti melalui penelitian tindakan kelas di sekolah masing-masing, baik dengan biaya sendiri maupun dengan biaya sponsor.

Keberhasilan kegiatan ini juga didukung oleh pernyataan para peserta yang disampaikan pada akhir kegiatan bahwa mereka merasa telah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sangat mereka butuhkan. Hal itu juga dibuktikan oleh adanya permintaan para guru dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga agar kegiatan serupa dapat ditindaklanjuti bagi guru-guru yang lain.

Peserta kegiatan ini merupakan output yang diharapkan dapat menularkan pengetahuan dan keterampilannya kepada para guru yang lain. Jika hal itu dapat terlaksana, kegiatan ini memiliki outcome, impact, dan benefits  yang sangat menggembirakan.

Berdasarkan pengamatan terhadap hasil kegiatan yang telah dilaporkan di atas, dapat dikemukakan bahwa kegiatan ini belum sepenuhnya mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. Dengan kata lain, tujuan kegiatan pengabdian ini belum bisa tercapai sepenuhnya. Walaupun kegiatan itu dapat diikuti oleh sejumlah guru sesuai dengan yang direncanakan dan walaupun pada akhir kegiatan masing-masing guru mampu mewujudkan hasil nyata, ternyata masih ada beberapa persoalan yang perlu dikemukakan di sini.

Pertama, waktu yang tersedia tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan para guru untuk memahami dan mendapatkan keterampilan dalam hal penelitian tindakan kelas dan penyusunan proposalnya. Dengan kata lain, untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang memadai bagi para guru, membutuhkan waktu yang relatif lebih banyak. Kurangnya waktu diduga juga merupakan penyebab sebagian guru tidak berhasil menyusun proposal penelitian.

Kedua, tidak semua guru memiliki motivasi yang tinggi dalam mengikuti kegiatan ini. Artinya, sebagian kecil guru dalam mengikuti kegiatan ini masih terbatas pada kapasitas melaksanakan tugas kedinasan dan belum merupakan kebutuhan. Berdasarkan hasil pengamatan selama pelatihan berlangsung, sebagian guru itu kurang menampakkan kegigihannya dalam berusaha memahami dan menguasai materi, baik berkenaan dengan konsep maupun keterampilan.

Ketiga, ada guru yang datang terlambat atau meninggalkan kegiatan sebelum semua kegiatan berakhir, sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan secara penuh. Hal itu juga berarti bahwa guru tersebut tidak memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara penuh.

Di samping beberapa hal yang merupakan faktor penghambat atau kendala sebagaimana dikemukakan di atas, ada beberapa hal yang merupakan faktor pendukung pelaksanaan kegiatan pengabdian ini. Pertama, pada umumnya para peserta mendapatkan izin atau kemudahan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga dan kepala sekolah masing-masing untuk mengikuti kegiatan ini. Kedua, untuk tahun depan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga mengharapkan agar kegiatan ini dapat dilaksanakan lagi bagi para guru yang belum mendapat kesempatan mengikuti kegiatan serupa.

Berdasarkan faktor penghambat dan pendukung yang telah dikemukakan di atas, melalui kesempatan ini perlu dikemukakan beberapa peluang yang dapat dilakukan pada kesempatan berikutnya. Pertama, pelatihan serupa perlu ditindaklanjuti mengingat porsi pelatihan (baik mengenai substansi maupun waktu yang tersedia) yang telah dilakukan dipandang kurang mencukupi bagi para guru. Pelatihan ini juga perlu dilanjutkan  untuk guru bidang studi bahasa Indonesia yang lain, bahkan para guru bidang studi yang lain. Kedua, pelatihan sebaiknya dilakukan dalam satuan waktu yang cukup agar pendalaman teori, metodologi, dan praktik dapat dilakukan dengan leluasa. Dengan demikian, para guru mendapatkan waktu yang cukup untuk merancang sebuah penelitian yang berkualitas. Ketiga, pelatihan sebaiknya menggunakan pendekatan pendidikan orang dewasa (andragogi) dan didasarkan pada analisis kebutuhan para guru, khususnya dalam melaksanakan proses pembelajaran secara nyata di lapangan.



KESIMPULAN DAN SARAN



Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Namun demikian, kegiatan ini belum sepenuhnya bisa mencapai target yang telah ditetapkan, baik target kuantitatif maupun target kualitatif. Secara kuantitatif, kegiatan ini diikuti oleh 25 orang guru bidang studi bahasa Indonesia. Sebagian besar peserta telah berhasil mewujudkan draf proposal penelitian tindakan kelas berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang mereka hadapi di sekolah masing-masing. Proposal yang sudah disusun oleh peserta dapat diseminarkan dan diperbaiki berdasarkan masukan atau saran, baik dari tim pengabdian masyarakat maupun dari sesama guru. Sebagian besar peserta merasa puas terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Dengan kata lain, mereka merasa telah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sangat mereka butuhkan.

Kendala utama yang terjadi pada kegiatan ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, waktu yang tersedia tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan para guru untuk memahami dan mendapatkan keterampilan yang mereka butuhkan. Kedua, tidak semua guru memiliki motivasi yang tinggi dalam mengikuti kegiatan ini. Ketiga, sebagian guru datang terlambat atau pulang mendahului, sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan secara penuh.

Di samping beberapa hal yang merupakan faktor penghambat atau kendala sebagaimana dikemukakan di atas, ada beberapa hal yang merupakan faktor pendukung pelaksanaan kegiatan pengabdian ini. Pertama, pada umumnya para peserta mendapatkan izin atau kemudahan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga dan kepala sekolah masing-masing untuk mengikuti kegiatan ini. Kedua, untuk tahun depan  Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga mengharapkan agar kegiatan ini dapat dilaksanakan lagi bagi para guru yang belum mendapat kesempatan mengikuti kegiatan serupa.




DAFTAR PUSTAKA


Achmadi, Muchsin. (1988). Materi Dasar Pengajaran Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud.
Akhadiah, Sabarti, dkk. (1988). Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Alwasilah, A. Chaedar. 2006. “Definisi Profesi Dosen” dalam Pikiran Rakyat, Kamis, 5 Januari 2006.
Arikunto, Suharsimi dkk.. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara
Atwell, Nancie. (1987). In the Middle: Writing, Reading, and Learning with Adolescents. Portsmouth, NH: Heinemann.
Badudu, Yus. (1985). Pelajaran Mengarang Dianaktirikan, Kompas, halaman 4, tanggal 21 Oktober 1985.
Calkins, Lucy McCormick. (1983). Lesson from a Child: on the Teaching and Learning of Writing. Portsmouth, NH: Heinemann.
Calkins, Lucy McCormick. (1986). The Art of Teaching Writing. Portsmouth, NH: Heinemann.
Elliot, J. (1996). Action Research for Educational Change. Milton Keynes: Open    University Press.
Enre, Facrudin Ambo. (1988). Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Jakarta: Ditjen Dikti.
Graves, Donald H. (1983). Writing: Teachers and Children at Work. Portsmouth, NH: Heinemann.
Ismail, Taufiq. (1997). Perbandingan Pengajaran Sastra dan Pengajaran Mengarang di SMU 13 Negara. Jakarta: Laporan Penelitian.
Kemmis, S. & McTaggart, R. (1988). The Action Research Planner. Victoria: Deakin University.
Keraf, Gorys. (1981). Komposisi. Jakarta: Angkasa.
Machmoed, Zaini. (1976). Dasar-dasar Komposisi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktik Penelitian Tindakan. Bandung: Alfabeta.
McTaggart, R. (1993). Action Research A Short Modern History. Geelong: Deakin University Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 1999. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE, UGM.
Pelly, Usman, dan Efendi, Rustam Amir. (1992). Pelajaran Membaca dan Menulis Harus Diutamakan Kembali, Kompas, halaman 12, tanggal 12 Maret 1992.
Sumarwati. (1996). Keefektifan Pengajaran Menulis dengan Pendekatan Proses pada Siswa Kelas V SD Negeri dan Swasta Kotamadia Surakarta. Tesis Program Pascasarjana IKIP Yogyakarta.
Syafe'i, Imam. (1988). Retorika dalam Menulis. Malang: FPBS IKIP Malang.
Syamsi, Kastam. (1999). Peningkatan Keterampilan Siswa Sekolah Dasar dalam Menulis. Yogyakarta: Laporan Penelitian.
Tomkins, G. E., and Hoskisson, K. (1995). Language Arts: Content and teaching Strategies. Englewood Cliffs, New Jersey: Merrill.
Tomkins, Gail E. (1994). Teaching Writing: Balancing Process and Product. New York: Macmillan.
Zuchdi, Darmiyati. (1996). Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses. Pidato Ilmiah pada Sidang Senat FPBS IKIP Yogyakarta tanggal 15 November 1996.
READ MORE - Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bahasa Indonesia

Selasa, 22 Maret 2011

Kesehatan Bayi Saat Lahir Tentukan Risiko ADHD



Kesehatan Bayi Saat Lahir Tentukan Risiko ADHD
Kesehatan bayi pada menit-menit pertama setelah lahir ke dunia dapat dikaitkan dengan risiko mengembangkan gangguan konsentrasi dan hiperaktif (ADHD) di kemudian hari.

Sebuah studi terbaru yang dilaporkan dalam Journal of Pediatrics, menunjukkan bahwa skor Apgar yang mencatat kondisi kesehatan bayi yang baru lahir dalam lima menit pertama dapat memberikan beberapa petunjuk mengenai risiko ADHD di masa mendatang.

Skor Apgar pada bayi yang baru lahir didasarkan pada tanda-tanda fisik, termasuk tingkat pernapasan, jantung dan otot. Bila mencatat nilai 7 atau lebih dianggap normal, sementara nilai 9 atau 10 menunjukkan bahwa bayi dalam "kondisi terbaik."

Dalam studi terbaru ini, para peneliti menemukan bahwa di antara lebih dari 980.000 bayi di Denmark, risiko mengembangkan ADHD meningkat setelah skor Apgar tercatat rendah.

Dibandingkan dengan bayi yang mencatat skor Apgar 9 atau 10, mereka yang memiliki nilai 5 atau 6 memiliki risiko 63 persen lebih tinggi terhadap ADHD. Sedangkan mereka yang mencatat nilai Apgar dari 1 sampai 4 memiliki risiko ADHD 75 persen lebih besar.

Namun, apa sebenarnya arti dari temuan terbaru ini masih belum jelas. Skor Apgar yang abnormal dapat mencerminkan kondisi semacam stres selama kehamilan atau kelahiran - seperti pasokan oksigen menurun - yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan ADHD di kemudian hari, para peneliti berspekulasi.

"Mungkin ada beberapa penyebab skor Apgar rendah dan ADHD yang saling terkait, tapi analisis kami tidak menunjuk (pada) faktor-faktor tertentu di sini," kata Dr. Carsten Obel, yang juga salah seorang peneliti dalam studi ini.

Sejumlah penelitian telah menghubungkan lahir prematur dengan peningkatan risiko ADHD, meskipun alasan ini belum jelas, catat Obel, peneliti dari University of Aarhus di Denmark.

Baik lahir prematur dan skor Apgar yang rendah dapat menjadi penanda perkembangan janin yang kurang optimal, jelasnya.

Temuan ini didasarkan pada data pencatatan nasional Denmark terhadap 980.902 anak yang lahir antara 1988 dan 2001. Dari anak-anak itu, 8.234 didiagnosis ADHD - yang sebagian besar anak laki-laki.

Bahkan setelah peneliti mempertimbangkan faktor-faktor seperti kelahiran prematur, pendapatan keluarga dan ibu merokok serta tingkat pendidikan ibu, risiko ADHD lebih tinggi di antara anak-anak dengan skor Apgar di bawah 7.

Namun, sebagian besar anak-anak dalam penelitian itu tidak didiagnosis dengan ADHD, terlepas dari skor Apgar yang tercatat. Dan belum jelas apakah hubungan Apgar-ADHD ini akhirnya dapat berimplikasi praktis.

Dalam kelompok studi ini, Obel mengatakan, skor kemampuan seorang anak untuk memrediksi ADHD tidak terlalu kuat.


www.smasim_09webs.com
READ MORE - Kesehatan Bayi Saat Lahir Tentukan Risiko ADHD

Sabtu, 19 Maret 2011

ASFIKSIA

ASFIKSIA
A. Definisi Asfiksia
1.      Pengertian
a.  Asfiksia neonatorum adalah di mana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir keadaan tersebut dapat disertai dengan adanya hipoksia, hiperkapnea dan sampai ke asidosis   (Hidayat, 2005).
b.  Asfiksia neonatorum adalah  kegagalan bernafas secara spontan  dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan  PaO2 di dalam darah (hipoksemia), hiperkabia (PaCO2) meningkat dan asidosis (Utomo, 2006).
c.  Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang mengalami kegagalan bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir (Kamarrullah, 2005).
d.  Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2­ (oksigen) dan mungkin meningkatkan CO2 (karbondioksida) yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Purwadianto, 2000).
e. Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur (Waspodo dkk (ed), 2007).
2.      Klasifikasi Asfiksia Neonatus dapat dibagi dalam :
Menurut Kamarullah (2005) klasifikasi asfiksia dibagi menjadi :
a.  Asfiksia Ringan
Skor APGAR 7-10. Bayi dianggap sehat, dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
b.  Asfiksia Sedang
Skor APGAR 4-6. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi tentang lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
c.  Asfiksia Berat
Skor APGAR 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada, pada asfiksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung  fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang post partum  pemeriksaan fisik sama asfiksia berat (Kamarullah,2005).
3.      Cara menilai tingkatan apgar score
Cara menilai tingkatan apgar score menurut Utomo (2006) adalah dengan :
a.  Menghitung frekuensi jantung
b.  Melihat usaha bernafas
c.   Menilai tonus otot
d.   Menilai reflek rangsangan
e.   Memperlihatkan warna kulit

Di bawah ini adalah tabel untuk menentukan tingkat derajat asfiksia yang dialami bayi:
Tabel 2 .1  Nilai APGAR.
Tanda
0
1
2
Detak jantung Pernafasan
Tonus otot
Reflek saat jalan nafas  dibersihkan
Warna
Tak ada Tidak ada
Lunglai
Tidak ada

Biru/pucat
<100 x/mnt Tidak teratur
Ekstremitas lemah
Menyeringai
Tubuh kemerahan
Ekstremitas  Biru
>100 x/mnt Menangis kuat
Gerakan aktif
Batuk/bersin

Merah seluruh tubuh
Sumber : Utomo, (2006).

Menurut Mochtar (1998) asfiksia dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a.     Asfiksia livida (biru)
b.     Asfiksia Pallida (putih)
Tabel 2.2 Perbedaan  antara asfiksia  livida dan asfiksia pallida
Perbedaan Asfiksia livida Asfiksia Pallida
Warna kulit Tonus otot
Reaksi rangsangan
Bunyi jantung
Prognosis
Kebiru-biruan Masih baik
Positif
Masih teratur
Lebih baik
Pucat Sudah kurang
Negatif
Tidak teratur
jelek

Asfiksia livida lebih baik dari pada asfiksia pallida, prognosis tergantung pada kekurangan O2 dan luasnya perdarahan dalam otak. Bayi yang dalam keadaan asfiksia dan pulih kembali harus di pikirkan kemungkinannya  menderita cacat mental seperti epilepsi dan bodoh pada masa mendatang.

4.    Diagnosis asfiksia
Menurut Wiknjosastro (2005) diagnosis asfiksia adalah sebagai berikut :
a.  DJJ
Keadaan di mana denyut jantung  janin frekuensi turun sampai di bawah 100/menit di luar his, atau denyut jantung tidak teratur elektro kardiogram janin digunakan untuk terus menerus  mengawasi jantung janin.
b.  Mekonium dalam air ketuban
Terdapatnya mekonium pada presentasi kepala, menunjukkan gangguan oksigenasi, dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan.
c. Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop diambil contoh darah janin, adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Bila pH turun sampai di bawah 7,2 merupakan tanda bahaya bagi janin.


B. Etiologi
Menurut Kamarullah (2005) penyebab asfiksia adalah Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena gangguan pertukaran gas transport O2 dari ibu ke janin sehungga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2.gangguan ini dapat berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan, atau secara mendadak karena hal-hal yang diderita ibu dalam persalinan.

Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi yang buruk, penyakit menahun seperti anemia, hipertensi, jantung dan lain-lain. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan yang besifat mendadak yaitu faktor janin berupa gangguan aliran darah dalam tali pusat, depresi pernapasan karena obat-obatan anestesi/analgetika yang diberikan ke ibu, perdarahan intrakranial, kelainan bawaan seperti hernia diafragmatika, atresia saluran pernapasan, hipoplasia paru-paru dan lain-lain. Sedangkan faktor dari ibu adalah gangguan his misalnya hipertonia dan tetani, hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi, dan eklamsia, gangguan mendadak pada plasenta seperti solusio plasenta.

Menurut Oxorn (2003), penyebab asfiksia adalah sebagai berikut :
a.  Pada saat kehamilan
1.  Sebab-sebab maternal
a)   Anemia
b)   Perdarahan dan syok
c)    Penyakit kardiorespiratorik
d)    Toxemia gravidarum
e)    Umur ibu lebih dari 40 tahun
f)     Grandemultipara

2.   Sebab-sebab pada placenta
a)   Penyakit pada placenta
b)   Perdarahan (placenta previa)
3.    Sebab-sebab pada funiculus umbilicalis
a)   Prolapsus
b)   Membelit dan simpul
c)    Kompresi
4.    Sebab-sebab fetal
a)   Anomali kongenital
b)   Prematuritas
c)   Ketuban pecah dini yang membawa infeksi
d)   Kehamilan lama
b.  Persalinan dan kehamilan
1)   Anoreksia akibat kontraksi uterus yang terlampau kuat dan berlangsung terlampau lama.
2)  Narkosis akibat pemberian analgesik dan anestesi yang berlebihan.
3)   Hipotensi maternal akibat anastesi spinal.
4)   Obstruksi saluran nafas akibat aspirasi darah, lendir.
5)   Partus lama
6)   Kelahiran yang sukar (dengan atau tanpa forcep) sehingga menyebabkan perdarahan cerebral atau kerusakan pada sistem saraf pusat.
Menurut Waspodo dkk (ed) (2007), faktor-faktor penyebab timbulnya asfiksia (gawat janin) adalah :
a.  Faktor ibu
1)   Pre eklampsia dan eklampsia
2)   Perdarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
3)   Partus lama atau partus macet
4)   Demam selama persalinan
5)  Infeksi berat seperti malaria, sifilis, TBC (Tuberculosis), HIV (Human Immunology Virus)
6)  Kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
b.  Faktor tali pusat
1)   Lilitan tali pusat
2)   Tali pusat pendek
3)   Simpul tali pusat
4)    Prolapsus tali pusat
c.   Faktor bayi
1)   Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
2)   Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
3)  Kelainan bawaan (konginetal)
4)   Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
Menurut Towel (1996), Penggolongan Penyebab Kegagalan Pernapasan Pada bayi yang terdiri dari :
a.   Faktor Ibu
1.    Hipoksia Ibu, hal ini akan menimbulkan hipoksia janin, hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anastesi dalam
2.    Gangguan aliran darah uterus
3.    Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya penga,liran O2 ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada kasus-kasus.
a)    Gangguan kontrasi uterus, misalnya : Hipertensi, Hipotoni / uterus akibat penyakit atau obat
b)    Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan
c)    Hipertensi pada penyakit eklamsia.
b.    Faktor Plasenta
Solusi plasenta. Perdarahan plasenta, dan lain-lain
c.   Fator Fetus
Tali pusat menumbung lilitan tali pusat, kompresi tali pusat antara   janin dan jalan lahir
d.   Faktor Neonatus
1.    Pemakaian obat anastesi / analgetika yang berlebihan pada itu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernapasan janin.
2.   Trauma yang terjadi pada persalinan. Misalnya : Perdarahan Intra Cranial
3.   Kelainan Kongenital. Misalnya : Hernia diafragmatika atresia saluran pernapasan hipoplasia paru dan lain-lain. (Wiknjosastro, 1999).

C. Tanda dan Gejala
Menurut Winkjosastro (1999), tanda dan gejala asfiksia yaitu:
1.    Hipoksia
2.    Respirasi > 60 x/mnt atau < 30 x/mnt
3.    Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas
4.    Bradikardia
5.   Tonus otot berkurang
6.  Warna kulit sianotik/pucat
Menurut Waspodo,dkk (2007), tanda dan gejala asfiksia adalah:
1.  Tidak bernapas atau napas megap-megap atau pernapasan lambat (kurang dari 30 kali per menit)
2.   Pernapasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (pelekukan dada)
3.   Tangisan lemah atau merintih
4.    Warna kulit pucat atau biru
5.   Tonus otot lemas atau ekstremitas lemah
6.   Denyut jantung tidak ada atau lambat (bradikardi) (kurang dari 100 kali per menit).

D. Patofisiologi
Pernapasan Spontan BBL tergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Bila terdapat gangguan Pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan / persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode opnu (Primary Apnoe) disertai dengan penurunan frekuensi diikuti oleh pernapasan teratur. Pada penerita asfiksia berat. Usaha bernafas tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnue kedua. Pada tingkat ini terjadi bradikardi dan penurunan tensi darah.
Pada asfiksia terjadi pula gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-asam pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama hanya menimbulkan asidosis respiraktonik. Bila gangguan berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an aerobic yang berupa glikolisis gukogen tubuh. Sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardio vaskuler yang disebabakan oleh beberapa keadaan diantarannya :
a.   Hilangnya Sumber Glukogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung
b.   Terjadi asidosis metabolis akan menimbulkan kelemahan otot jantung
c.    Pengisian udara alucolus yang kurang adekuat akan mengakibatkan tetap tingginya Resistensi Pembuluh darah Paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan demikian pula kesistem sirkulasi tubuh lain akan mengalami gangguan. (Rustam, 1998)
Pada keadaan asfiksia yang perlu mendapat perhatian sebaiknya :
a.    Menurunnya tekanan O2 darah (Pa O2)
b.    Meningginya tekanan O2 darah (Pa O2)
c.     Menurunya PH (akibat osidosis respirantorik dan metabolik)
d.    Dipakainya sumber glukogen tubuh untuk metabolisme an-aerobic
e.     Terjadinya perubahan sistem kardiovaskuler
Dalam menentukan tingkat asfiksia neonatorum digunakan kriteria penilaian yaitu yang disebut dengan skor APGAR. Skor APGAR biasanya dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap pada skor APGAR menit 1 ini menunjukan beratnya ASFIKSIA yang diderita dan untuk menentukan pedoman resusitasi dan perlu juga dinilai setelah 5 menit bayi lahir karena hal ini mempunyai koralasi yang erat dengan morbiditas dan mertilitas neonatal.
Menurut Kamarullah (2005), patofisiologi asfiksia adalah Pernapasan spontan bayi baru lahir tergantung pada keadaan janin pada masa hamil dan persalinan. Proses kelahiran sendiri akan menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara. Proses ini sangat perlu untuk merangsang hemoreseptor pusat pernapasan untuk terjadinya usaha pernafasan yang pertama yang kemudian akan berlanjut menjadi pernapasan yang teratur. Pada penderita asfiksia berat usaha napas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya dalam periode apnue. Pada tingkat ini disamping penurunan frekuensi denyut jantung (bradikardi) ditemukan pula penurunan tekanan darah dan bayi nampak lemas (flasid). Pada asfiksia berat bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukkan upaya bernapas secara spontan. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas atau transport O2 (menururunnya tekanan O2 darah) mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik, tetapi bila gangguan berlanjut maka akan terjadi perubahan kardiovaskuler. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel-sel otak, kerusakan sel-sel otak ini dapat menimbulkan kematian atau gejala (squele).

E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan asfiksia sedang menurut Wiknjosastro (2005) adalah sebagai berikut :
a.   Tindakan umum
1)    Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel jaringan sehingga kebutuhan oksigen meningkat, perlu diperhatikan untuk menjaga kehangatan suhu BBL dengan :
a)    Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.
b)    Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar.
c)    Bungkus bayi dengan kain kering.
2)   Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan amnion, kepala bayi harus posisi lebih rendah sehingga memudahkan keluarnya lendir.
3)   Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan
Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua telapak kaki bayi, menekan tendon achilles atau memberikan suntikan vitamin K. Hal ini berfungsi memperbaiki ventilasi.
b.   Tindakan khusus
1)   Asfiksia berat (nilai apgar 0-3)
Resusitasi aktif dalam hal ini harus segera dilakukan yaitu dengan :
a)    Memperbaiki ventilasi paru-paru dengan memberikan O2 secara langsung dan berulang atau dengan melakukan intubasi endotracheal dan O2 dimasukkan dengan tekanan tidak lebih dari 30 ml. Hal ini mencegah terjadinya iritasi paru berlebihan sehingga dapat terjadi ruptur aveoli. Tekanan positif ini dilakukan dengan meniupkan udara ke dalam kateter dari mulut ke pipa atau ventilasi kantong ke pipa.
b)   Memberikan natrikus bikarbonat dengan dosis 2-4 mEQ/kg BB
c)    Masase jantung dikerjakan dengan melakukan penekanan diatas tulang dada secara teratur 80-100 x/mnt. Tindakan ini berselingan dengan nafas buatan, yaitu setiap 5 x masase diikuti 1x pemberian nafas. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya komplikasi pneumotoracks jika  tindakan ini dilakukan bersamaan.
d)    Memberikan obat-obatan 1/10.000 andrelin dengan dosis 0,5-   1 cc secara intravena (sebegai obat inotropik) dan kalsium glukonat 50-100 mm/kg BB secara intravena, untuk meningkatkan frekuensi jantung.
2)   Asfiksia sedang (Nilai Apgar 4-6)
Dilakukan rangsangan untuk menimbulkan reflek pernafasan dengan :
a)    Melakukan rangsangan 30-60 detik setelah penilaian APGAR   1 menit.
b)   Melakukan nafas buatan dengan memasukkan pipa ke dalam hidung, O2 dialirkan dengan kecepatan 1-2 liter/menit. Bayi diletakkan dengan kepala dalam dorsofleksi, dilakukan dengan membuka dan menutup lubang hidung dan mulut disertai dengan menggerakkan dagu ke atas dan kebawah dalam frekuensi 20 x/ menit.
c)    Melakukan pernafasan mulut ke mulut yag seharusnya dalam mulut bayi dimasukkan pharingeal airway yang berfungsi mendorong pangkal lidah ke depan, sebelum mulut penolong diisi O2 sebelum peniupan, peniupan dilakukan secara teratur dengan frekuensi 20-30 x/menit.
c.   Tindakan lain dalam resusitasi
1)      Pengisapan cairan lambung dilakukan pada bayi-bayi tertentu yaitu pada bayi prematur, sebelumnya bayi mengalami gawat janin, pada ibu yang mendapatkan anastesia dalam persalinan.
2)      Penggunaan obat Nalorphin diberikan pada bayi yang disebabkan oleh penekanan pernafasan akibat morfin atau petidin yang diberikan selama proses persalinan
Menurut Hidayat (2005), Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan asfiksia, antara lain
a.  Asfiksi Ringan (Apgar score 7-10)
Caranya:
1.      Bayi dibungkus dengan kain hangat
2.      Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung kemudian mulut
3.      Bersihkan badan dan tali pusat.
4.      Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke dalam inkubator.
b.      Asfiksia sedang (Apgar score 4-6)
Caranya :
1.      Bersihkan jalan napas.
2.      Berikan oksigen 2 liter per menit.
3.      Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada reaksi,bantu pernapasan dengan melalui masker (ambubag).
4.      Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5%sebanyak 6cc.Dextrosa 40% sebanyak 4cc disuntikan melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan, untuk mencegah tekanan intra kranial meningkat.
c.       Asfiksia berat (Apgar skor 0-3)
1.      Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.
2.      Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
3.      Bila tidak berhasil lakukan ETT.
4.      Bersihkan jalan napas melalui ETT.
5.      Apabila bayi sudah mulai benapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc.

DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, P. 2002. Praktisi Pelayanan Kesehatan Material dan Neonatal Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono, P. 1992. Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Mochtar, R. 1998. Sinopsis obstetric. Jakarta : EGC
Mochtar, R. 1998. Obstetric Fisiologis. Jakarta : EGC
Mochtar, R. 1998. Obstetric Patologi. Jakarta : EGC
Dep. Kes. RI. 2005.  Asuhan Persalinan Normal. Jakarta
Dep. Kes. RI. 2007. Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
FKUI. 2005. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Infomedika
Hidayat, A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika.
Ladewig, P. 2006. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir. Jakarta: EGC.
Meadow, R. dan Newell, S. 2005. Lectrure Notes Pediatrika. Jakarta: Erlangga.
Nelson, J. 1994. Ilmu  Kesehatan  Anak, Jilid I. ECG. Jakarta.
Saifuddin, A. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Saifuddin, A. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Short, JR, Alih bahasa Eric Gultom. 1994. Iktisar Penyakit Anak. Binarupa Aksara. Jakarta.
Sujono, A. 1998. Penatalaksanaan Neonatus Resti. EGC. Jakarta.
Surasmi, A. dkk. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta: EGC
Varney, H. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC
Wong, D. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC


www.smasim_09webs.com
READ MORE - ASFIKSIA

Minggu, 15 Agustus 2010

Dokter

Dokter (dari bahasa Latin yang berarti "guru") adalah seseorang yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang-orang yang sakit. Tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Untuk menjadi dokter biasanya diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dan mempunyai gelar dalam bidang kedokteran.

Untuk menjadi seorang dokter, seseorang harus menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran selama beberapa tahun terggantung sistem yang dipakai oleh Universitas tempat Fakultas Kedokteran itu berada.
Di Indonesia Pendidikan Dokter mengacu pada suatu Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI). Saat ini digunakan KIPDI III yang menggunakan sistem Problem Based Learning.

Pendidikan dokter di Indonesia membutuhkan 10 semester untuk menjadi dokter, 7 semester untuk mendapatkan gelar sarjana (Sarjana Kedokteran/S.Ked) ditambah 3 sampai 4 semester kepaniteraan klinik senior atau ko-asisten (clerkship) di Rumah Sakit.[rujukan?]


Untuk menjadi seorang dokter, lulusan Sekolah Menengah Umum mengikuti Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) di Institusi Pendidikan Dokter yang ada di Indonesia. Pada awal tahun 2011 telah terdaftar 71 PSPD di seluruh Indonesia. Di Indonesia Pendidikan Dokter mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia dan Standar Pendidikan Profesi Dokter yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia pada tahun 2006. Bentuk kurikulum program studi dokter saat ini adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang terdiri atas 3 tahap yaitu tahap pendidikan umum (1 semester), tahap pendidikan ilmu kedokteran (minimum 6 semester) dan tahap pembelajaran klinik (minimum 3 semester).

Secara keseluruhan untuk mencapai gelar dokter dibutuhkan minimum 10 semester pendidikan. Setelah itu dokter yang baru lulus harus mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang diselenggarakan oleh Komite Bersama Kolegium Dokter Indonesia (KDI) di bawah IDI dan seteah lulus memperoleh Sertifikat Kompetensi Dokter. Setelah memperoleh Sertifikat Kompetensi Dokter, seorang dokter lulusan KBK dapat mengikuti program internship selama 1 tahun. Program internship diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Dokter yang telah selesai mengikuti program internship berhak untuk mengajukan Surat Ijin Praktik secara mandiri. Dokter yang telah mengikuti program internship dapat memilih jalur karier praktiknya. Apakah menjadi dokter spesialis, atau menjadi dokter praktik umum, Dokter spesialis adalah dokter yang telah mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Di Indonesia sekarang terdapat lebih dari 30 jenis spesialisasi yang dapat dipilih. Dokter spesialis akan berpraktik pada layanan kesehatan sekunder dan tersier (di rumah sakit).

Dokter praktik umum adalah dokter yang berpraktik di layanan primer (puskesmas atau klinik medik). Dokter praktik umum menjadi pintu gerbang pelayanan kedokteran. Karena derajat kesehatan di suatu negara akan baik bila dokter di layanan primernya berkualitas, maka peran dokter praktik umum di suatu negara sangat penting. Dokter praktik umum dianjurkan untuk terus memperbaharui pengetahuan dan mengasah ketrampilannya untuk menjaga kualitas.

Dokter praktik umum yang telah mengikuti beberapa ketrampilan yang diperlukan dan menunjukkan bahwa memperbaharui pengetahuannya secara terus menerus, berhak untuk disebut sebagai dokter keluarga yang dikeluarkan sertifikatnya oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI).

Dokter Keluarga adalah dokter praktik umum yang berhak untuk menjadi penyedia pelayanan kedokteran di tingkat primer bagi pasien-pasien yang tergabung dalam suatu perusahaan asuransi kesehatan. Pada akhir Oktober 2010 pada Konsil Kedokteran Indonesia terdaftar 73.574 dokter, 19.128 dokter spesialis.

READ MORE - Dokter